Sunday, May 6, 2007

Injil Minggu Paskah V/C

Injil Minggu Paskah V/C

Tgl. 6 Mei 2007

Yohanes Samiran SCJ

PESAN-PESAN AKHIR BAGI PARA MURID

(Yoh 13:31-33a.34- 35)

Rekan-rekan yang budiman!

Yoh 13:31-33a.34- 35 yang dibacakan pada hari Minggu Paskah V tahun C ini memuat pesan-pesan terpenting Yesus kepada murid-muridnya. Boleh dikata, ini juga warisan terbesar bagi mereka yang telah mengikutinya, mendengarkan ajarannya, menyaksikan tindakan-tindakanny a bagi mereka yang membutuhkan pertolongannya.

PERJAMUAN TERAKHIR

Kata-kata Yesus yang disampaikan Yohanes dalam Injil hari ini diucapkannya pada waktu makan malam yang penghabisan kalinya bersama murid-muridnya. Pada kesempatan itu Yesus mengatakan bahwa salah seorang dari mereka akan menyerahkannya (Yoh 13:21-30). Hubungan guru-murid yang hingga saat itu baik kini mulai diganggu kekuatan gelap. Kelompok ini tidak lepas dari kelemahan manusiawi juga. Murid-murid bengong dan Petrus meminta Yohanes ("murid yang dikasihi") bertanya siapa yang dimaksud. Yesus menjawab bahwa dia yang akan diberinya roti sesudah dicelupkannya, itulah orangnya. Kemudian ia memberikan roti itu kepada Yudas Iskariot. Tapi juga dikatakan dalam Injil Yohanes bahwa sesudah itu Yudas kerasukan Iblis (Yoh 13:27). Bagi Yohanes, Yesus sadar betul akan hal ini. Yesus berkata kepada Yudas agar ia segera pergi melakukan apa yang hendak diperbuatnya. Dan Yudas pun keluar. Murid-murid tidak menangkap arti kejadian itu. Mereka mengira Yesus menyuruh Yudas, pemegang kas mereka, untuk pergi membeli sesuatu.

Sebuah catatan mengenai Yudas. Ia kerasukan Iblis justru pada saat Yesus memberinya roti yang sudah dicelup - artinya makanan yang siap untuk disantap yang diberikan oleh tuan rumah kepada orang yang diundangnya. Sampai saat itu Yesus masih menganggap Yudas orang sendiri, termasuk keluarga, diajak makan bersama. Namun justru pada saat itulah kekuatan gelap yang melawan Yesus membadan dalam diri seorang manusia. Dan bukan sebarang orang, melainkan orang yang amat dekat dengannya. Yohanes menceritakan ini selang lama setelah peristiwa itu. Tetapi baginya jelas itulah saatnya Iblis memakai cara-cara manusiawi juga untuk masih berusaha menggagalkan kehadiran ilahi di tengah-tengah manusia. Menarik diperhatikan perkembangan pergulatan antara dua kekuatan ini. Allah memakai ujud manusia untuk menjalankan karya penebusan. Kekuatan-kekuatan yang melawan karya Allah itu kini juga memakai ujud manusia juga. Dan bukannya keduanya tidak saling mengenal. Justru mereka amat dekat satu sama lain. Tidak perlu drama ini kita anggap allegori bagi hubungan antar manusia yang tak selalu ideal. Tak perlu juga kita terapkan pada kehidupan batin yang sering digambarkan sebagai kancah perebutan pengaruh baik dan buruk. Maksud Injil lain. Yohanes menyampaikannya untuk menunjukkan bagaimana kekuatan-kekuatan gelap itu bisa juga memakai cara-cara yang dipakai Allah sendiri. Ini bisikan Yohanes bagi pembacanya, bagi kita, agar kita makin memahami kenyataan yang kerap kali tidak mudah dilihat.

MENERUSKAN KEPANDAIAN

Petikan hari ini mulai dengan menyebut "setelah Yudas pergi" (Yoh 13:31). Keterangan ini amat penting. Yudas yang sudah kerasukan Iblis itu tidak lagi ada di situ ketika Yesus berkata-kata mengenai Anak Manusia yang dimuliakan dan mengenai Allah yang dimuliakan di dalam dia. Juga Yudas tidak mendengar perintah baru yang diberikan Yesus kepada murid-murid untuk saling mengasihi "seperti halnya" dia sendiri mengasihi mereka. (Makna "seperti halnya" masih akan diuraikan di bawah.) Dengan perginya Yudas dari kumpulan itu hendak dikatakan bahwa dalam saat-saat itu Iblis tidak hadir mengancam kelompok tadi. Kata-kata Yesus mulai saat itu boleh diterima para murid tanpa khawatir dikelirukan oleh kekuatan-kekuatan yang bisa mengalihkan maksudnya. Orang kini mengalami suasana yang bersih dari kekuatan jahat. Semua yang dikatakannya dari saat itu hingga nanti ditangkap di sebuah taman di seberang sungai Kidron (Yoh 18) bebas dari kehadiran yang jahat - ini visi rohani Yohanes penginjil. Dalam saat-saat yang khusus inilah Yesus menyampaikan perintah baru tadi. Bagaimana kita dapat memahami peristiwa ini lebih lanjut?

Hubungan guru-murid dalam Injil Yohanes lebih mendapat penekanan dibanding dengan Injil-Injil lain. Bahkan dapat dikatakan, Injil Yohanes berpuncak pada ungkapan perhatian seorang guru kepada murid-muridnya. Penulis Injil yang menyebut diri sebagai "murid yang dikasihi" ini merasa ditugasi secara khusus menyampaikan perihal perhatian Yesus kepada murid-muridnya hingga saat-saat terakhir bersama mereka. Dialah satu-satunya murid yang memperoleh hidup panjang sehingga sempat menyampaikan hal itu kepada banyak orang dalam Injilnya.

Perjamuan terakhir ialah semacam perpisahan sebelum Yesus pergi kepada Bapanya untuk menyiapkan tempat di atas sana. Apa yang bakal diperbuat seorang guru dalam saat-saat terakhir? Ia akan mengajarkan pengetahuannya yang paling dalam, menurunkan "ilmunya" yang paling handal kepada murid-muridnya. Memang murid-murid belum amat siap. Namun waktu sudah mendesak. Yang bisa dilakukan akan dilakukannya. Tetapi hal ini bakal tidak bisa terjadi bila ada murid yang tak pantas dan tak bakal kuat menanggung pemberian itu. Oleh karena itu Yudas dijauhkan terlebih dahulu, dipisahkan. Dan memang dengan dikuasai oleh kekuatan-kekuatan yang melawan Yesus ia sudah tidak ada bersama dengan mereka yang lain. Jadi inilah saat-saat para murid untuk sementara terlindung dari pengaruh jahat tadi. Nanti mereka akan berbaur lagi dalam keadaan di mana ada kekuatan jahat. Di sinilah saat satu-satunya yang mungkin untuk menyampaikan hal yang paling besar yang bisa disampaikannya bagi mereka. Boleh jadi murid-murid belum dapat segera menghayati. Tak apa. Masih ada kesempatan untuk berlatih dan mendalaminya nanti. Di sini diberikan yang pokok-pokok, tetapi yang paling dalam. Dan Yesus juga memberikan yang paling nyata bagi kehidupan sehari-hari: saling mengasihi.

Acap kali kita mendengar para guru dan tokoh mistik di dunia ini, termasuk para tokoh kebatinan Jawa yang murni, mewariskan ilmu kepada murid-muridnya. Yang mereka berikan biasanya amat sederhana, sehari-hari, dan lumrah. Namun yang sederhana itu berisi kekuatan yang maha hebat yang dapat menyingkirkan daya-daya gelap yang mengurung kemanusiaan. Inilah yang diturunkan Yesus kepada murid-muridnya saat itu.

KEKUATAN UNTUK APA?

Apa sebenarnya daya-daya gelap yang paling hebat dan yang paling menakutkan? Bukan penguasa jahat yang menindas. Bukan pemeras. Paling susah ditangkal ialah kekuatan-kekuatan yang sudah lama merasuk di dalam diri manusia dalam ujud kecenderungan yang mau meniadakan kemanusiaan sendiri. Yesus sang Guru itu mengantar manusia mengenal Tuhan yang disebutnya sebagai Bapa dan mengajarkan bagaimana hidup terus di tengah-tengah daya-daya gelap itu: dengan saling mengasihi. Lihat juga Yoh 15:17.

Bagaimana saling mengasihi itu dapat dibahasakan bagi orang sekarang? Sepenanggungan, solidaritas, boleh jadi sebuah gagasan yang bisa membantu. Maksudnya orang mau saling menanggung kesulitan. Bila ada solidaritas orang mulai mudah saling percaya. Dan bila orang mulai makin saling percaya hubungan-hubungan selanjutnya bisa terbangun. Juga kesulitan pun menjadi perkara yang tidak lagi membuat putus asa. Inilah bagian "pengetahuan" terakhir yang diturunkan Yesus sang Guru kepada murid-muridnya. Lain sama sekali dari pengetahuan kebal yang membuat orang tak mempan pelor, tapi badar bila disabet daun kelor, atau susuk yang mesti nanti dilepas. Yang diwariskan Yesus itu ialah keyakinan untuk bersama-sama memperbaiki kemanusiaan, mulai dengan cara kecil-kecilan, dengan saling memberi perhatian.

Yang tampaknya enteng ini bisa sukar dijalankan. Dan memang Yesus mengatakan demikian. Dalam Yoh 16:12-15 terang-terang dikatakan bahwa masih banyak yang akan diturunkannya, tetapi murid-murid belum kuat menanggungnya. Ia tidak mempunyai banyak waktu lagi. Tetapi nanti ia akan mengirim Roh Kebenaran, dan Roh ini akan menuntun mereka mendalami pengetahuan kebenaran itu.

"SEPERTI AKU MENGASIHI KALIAN"

Sering ungkapan "seperti" itu dipahami sebagai "dalam cara sama" atau "dengan jalan seperti". Namun dalam kalimat Yunaninya, "kathoos", yang memang arti harfiahnya ialah "sama halnya", "seperti halnya", di sini dipakai untuk mengantar kalimat yang mengungkapkan alasan bagi perintah yang disampaikan. Jadi maknanya sebenarnya lebih dekat dengan "karena". Perintah saling mengasihi diberikan justru karena Yesus mengasihi mereka. Kurang mengena bila ungkapan "seperti halnya aku mengasihi kalian" ditafsirkan sebagai "dengan kasih seperti yang kupunyai bagi kalian". Siapa yang bisa mengasihi seperti dia? Kita bisa mencoba meniru mau memberikan diri seutuhnya. Tapi dapatkah berbuat seperti dia? Adalah godaan besar bagi orang yang dekat dengannya untuk mau menjadi seperti dia. Ini tidak dimintanya. Kita bisa saja menjadi pahlawan cinta kasih, tetapi tidak menjadi murid Yesus. Yesus sendiri tidak pernah mau mencoba menjadi Allah. Ia diangkat oleh Allah yang disebut Bapanya itu menjadi Tuhan bagi manusia. Tidak perlu kita menginginkan dan mengusahakan klonasi rohani Yesus dalam batin kita. Nanti kisruh. Bisa-bisa orang akan saling mengklaim yang tidak-tidak walaupun dengan maksud baik apapun

KREATIVITAS DAN KELELUASAAN

Bila ditimbang-timbang, kita akan justru merasa lebih tenteram bila tidak diminta menjalankan kasih sayang dengan cara persis seperti yang dilakukan Yesus. Kasih sukar dijabarkan menjadi serangkai ukuran atau model belaka. Ini justru kebesaran perintah saling mengasihi tadi. Kita diminta menemukan jalan-jalan baru yang belum terpikirkan sebelumnya. Ini kemanusiaan baru. Inilah yang menunjukkan Tuhan tetap mengasihi manusia. Dan pengajaran yang diturunkan kepada murid-murid tadi itu juga bisa menjadi warisan bagi kita juga. Setiap orang dapat menghidupkan apa itu kasih kepada sesama dengan pelbagai cara. Kreatif. Orisinil. Bukan jiplakan belaka. Dapat dipelajari walau tidak dapat begitu saja diterapkan seperti suatu pola, norma, atau aturan. Memang orang dapat merasakan bila tidak ada atau bila kehadirannya samar-samar belaka. Namun bila hadir, kreativitas saling mengasihi itu akan membuka wilayah-wilayah kehidupan baru.

Saturday, May 5, 2007

God Calling 5 Mei

BIARKANLAH AKU MEMILIH

Anak-anakKu yang Kukasihi. Ya, dengan hati bukan
dengan pikiran, manusia harus merenungkan Aku, dan
dengan demikian, pemujaan menjadi naluri.

Tariklah RohKu sebagai napas dari udara yang segar dan
dengan kerinduan yang dalam.
Pandanglah dengan mata rohmu kepadaKu, bukalah jendela
hatimu untukKu. Engkau harus selalu sadar bahwa
segalanya adalah milikmu, bahwa Aku senang memberikan
yang terbaik untukmu.

Kosongkanlah pikiranmu dari segala hal yang terbatas.
Apapun yang indah dapat engkau miliki. Engkau harus
makin lama makin banyak membiarkan Aku yang memilih.
Engkau tidak akan menyesal.

Renungan 5 May

"Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia."

(Kis 13:44-52; Yoh 14:7-14)

Ign.Sumarya SJ

"Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia." Kata Filipus kepada-Nya: "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami." Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya. " (Yoh 14:7-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· "Wah jalannya seperti itu pasti pastor", demikian rasanan beberapa perawat di rumah sakit ketika melihat seorang lelaki berjalan di gang rumah sakit. Omong punya omong dengan mereka dalam suatu perjumpaan ternyata para perawat yang masih perawan ini senantiasa memperhatikan kaum lelaki, lebih-lebih yang masih muda,yang berkunjung ke rumah sakit. Dari cara berjalan orang yang bersangkutan mereka dapat mendugai dan mengerti siapa orang tersebut. Memang dari cara bertindak atau perilakunya dapat dikenali siapa sebenarnya orang tersebut. "Barangsiapa telah melihat Aku, ia melihat Bapa", demikian kata Yesus kepada Filipus. Apa yang dikatakan oleh Yesus kepada Filipus ini kiranya layak menjadi permenungan kita. "Dari buahnya dapat dikenali pohonnya", demikian kata pepatah. Marilah kita lebih memperhatikan cara bertindak atau perilaku kita daripada omongan atau wacana. Sebagai orang beriman, orang yang percaya kepada Tuhan, hendaknya cara bertindak atau perilaku kita memperlihatkan bahwa kita sungguh beriman karena senantiasa melaksanakan perintah atau kehendak Tuhan. Secara konkret rasanya cara bertindak kita harus dijiwai oleh kasih, yang menjadi nyata antara lain dalam keutamaan-keutamaan :"sabar; murah hati; tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong, sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain" (lih IKor 13:4-5). Dengan menghayati keutamaan-keutamaan ini kiranya kita akan semakin dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari yang kita kerjakan saat ini, alias kita semakin disukai oleh Tuhan dan sesama, dan sepak terjang atau pelayanan kita tidak kenal batas tempat, waktu dan SARA (Suku, Ras dan Agama), karena kita sungguh berpartisipasi dalam karya penyelamatan dunia.

· "Inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi." (Kis 13:47), demikian kata Paulus. Paulus telah 'mengelilingi dunia' dan 'menjadi terang bagi bangsa-bagnsa yang tidak mengenal Allah'. Rasanya kita semua memiliki tugas perutusan atau panggilan yang sama, yaitu 'menjadi terang bagi sesama kita yang berada di dalam kegelapan'. Maka baiklah di sini saya angkat doa St.Fransiskus Assisi, yang kiranya dapat menjadi pegangan dan pedoman kita dalam rangka menjadi 'terang bagi sesama yang berada dalam kegelapan': Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cintakasih; bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan; bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan; bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian; bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran; bila terjadi kecemasan, jadikanlah aku pembawa harapan; bila terjadi kesedihan jadikanlah aku sumber kegembiraan; bila terjadi kegelapan jadikanlah aku pembawa terang" (PS no 221). Kita tidak perlu takut atau gentar dalam menjadi 'terang', biarkanlah banyak orang melihat dan mencermati kita. Selain menghayati keutamaan-keutamaan tersebut di atas kiranya kita juga dapat menjadi 'terang' dengan setia dan taat pada tugas perutusan dan pekerjaan kita masing-masing alias menjadi saksi atau teladan dalam hidup beriman, ber-Tuhan, dalam kerja dan pergaulan. Rasanya kita masa kini sendang mengalami kirisis teladan atau kesaksian, maka menjadi teladan atau saksi yang baik dan handal sangat dibutuhkan dan mendesak.

"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa. Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah! " (Mzm 98:1-4)

Jakarta, 5 Mei 2007

Friday, May 4, 2007

God Calling 4 May

BERBAGILAH DENGANKU

Nikmatilah KasihKu. Berusahalah untuk Hidup di dalam
kegembiraan KerajaanKu.

Tuntutlah hal-hal yang besar. Tuntutlah hal-hal yang
penting. Tuntutlah Sukacita dan Damai dan kemerdekaan
dari kekhawatiran. Bersukacitalah di dalam Aku.

Aku adalah Tuhanmu, Penciptamu. Ingatlah juga bahwa
Aku tetap sama, kemarin, hari ini dan untuk
selama-lamanya. Ketika buah pikiranKu mengenai alam
semesta menjadi kenyataan, Aku adalah Penciptamu –
juga pada pikiran penuh kasih mengenai engkau, membuat
menjadi kenyataan semua apa yang engkau butuhkan dalam
bidang materi.

Bersukacitalah di dalam Aku, percayalah kepadaKu,
berbagilah denganKu di dalam segala sesuatu
bersukacitalah di dalam Aku. Berbagilah segalanya
dengan Aku seperti seorang anak kecil membagi rasa
sakitnya, lukanya, rasa sedihnya, suka citanya,
pekerjaannya yang kecil, milik kecil yang dihargainya
dengan ibunya.

Dan berilah Aku suka cita dalam berbagi segalanya
denganmu.

Renungan 4 May

"Tidak ada seorangpun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku"

(Kis 13:26-33; Yoh 14:1-6)

Ign.Sumarya SJ

"Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ." Kata Tomas kepada-Nya: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?" Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."(Yoh 14:1-6), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

Kita berasal dari Allah dan harus kembali kepada Allah, demikian keyakinan iman kita. Hidup di dunia ini hanya sementara ('mampir ngombe', demikian kata orang Jawa), maka marilah apa yang sementara ini kita manfaatkan atau isi dengan apa-apa yang berguna demi keselamatan jiwa kita , agar kelak ketika kita mati, dipanggil Tuhan, karena kemurahan HatiNya kita diperkenankan hidup mulia bersamaNya di sorga. Dalam memanfaatkan atau mengisi waktu yang sementara ini kita diharapkan setia mengikuti Yesus sebagai 'Jalan, Kebenaran dan Hidup':

· Yesus adalah "Jalan". Jalan adalah 'sarana' yang memudahkan kita untuk bergerak, melangkah maju menuju suatu 'tempat' yang kita harapkan atau cita-citakan. Rasanya semua orang memiliki harapan atau cita-cita untuk hidup bahagia, damai sejahtera baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Untuk mewujudkan harapan atau cita-cita ini kita dipanggil untuk menelusuri 'jalan' yang telah dilalui Yesus, yaitu 'salib dan kebangkitan' , 'trial and error' , yaitu dengan mempersembahkan diri seutuhnya pada panggilan dan tugas perutusan, dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan tenaga melaksanakan tugas pekerjaan. Maka jika kita pelajar atau mahasiswa marilah kita sungguh belajar sehingga mahir belajar, dan jika pekerja sungguh bekerja sehingga mahir bekerja, dst... Percayalah jika kita mahir belajar dan bekerja maka perjalanan hidup kita akan menuju ke hidup bahagia dan damai sejahtera.

· Yesus adalah "Kebenaran'. Apa yang disebut benar senantiasa berlaku umum, dimana saja dan kapan saja. Maka Gereja Katolik menyatakan bahwa "mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta GerejaNya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendakNya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal" (Vatikan II: LG no 16). Orang benar berarti melaksanakan kehendak Tuhan dalam perbuatan-perbuatan konkret. Kebenaran bukan milik atau tidak hanya ada pada Gereja Katolik secara organisatoris atau monopoli agama Katolik saja, kebenaran ada dimana-mana, ada di dalam diri orang yang berkehendak dan berperilaku baik. Maka beriman pada 'Yesus adalah Kebenaran' hemat saya juga berarti menghayati dan mengembangkan persaudaraan atau persahabatan sejati tanpa batas SARA (Suku, Ras dan Agama). "Hai saudara-saudaraku, baik yang termasuk keturunan Abraham, maupun yang takut akan Allah, kabar keselamatan itu sudah disampaikan kepada kita " (Kis 13:26), demikian kata Paulus.

· Yesus adalah "Hidup". Meneladan cara bertindak dan menghayati sabda Yesus pasti akan 'hidup': bergairah, bersemangat, dinamis dalam melaksanakan tugas panggilan dan tugas perutusan. Bagaimana cara bertindak dan apa yang disabdakan oleh Yesus dapat kita temukan dalam Injil/Kitab Suci, maka marilah kita sering atau secara rutin membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci. Jika dalam perjalanan hidup, tugas panggilan dan perutusan kita merasa lelah, letih lesu, kurang bergairah, marilah sejenak berhenti untuk membaca dan merenungkan sabda Tuhan. Cara bertindak dan sabda-sabdaNya merupakan perwujudan kasih dalam rangka menyelamatkan dunia ini, dan kasih itu senantiasa menggairahkan dan menghidupkan. Dengan kata lain dalam membaca dan merenungkan sabda Tuhan harus dijiwai kasih (dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan tenaga) agar kita dapat memahami dan mengimani dengan benar apa yang dilakukan dan disabdakan oleh Yesus. Ingatlah bahwa kita ada/diadakan, tumbuh berkembang dan hidup seperti saat ini hanya karena dan oleh kasih, maka menghayati iman bahwa 'Yesus adalah Hidup' secara konkret berarti hidup saling mengasihi, sebagaimana Ia sabdakan : "Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu" (Yoh 15:12-14)

"Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu. Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi, memecahkan mereka seperti tembikar tukang periuk." Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana, terimalah pengajaran, hai para hakim dunia! Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar" (Mzm 2:8-11)

Jakarta, 4 Mei 2007

BEDA ANTARA CINTA DAN COCOK

BEDA ANTARA CINTA DAN COCOK
Oleh: Dr. Paul Gunadi

Salah satu alasan paling umum mengapa kita menikah adalah karena cinta--cinta romantik, bukan cinta agape, yang biasa kita alami sebagai prelude ke pernikahan. Cintalah yang meyakinkan kita untuk melangkah bersama masuk ke mahligai pernikahan.

Masalahnya adalah, walaupun cinta merupakan suatu daya yang sangat kuat untuk menarik dua individu, namun ia tidak cukup kuat untuk merekatkan keduanya.

Makin hari makin bertambah keyakinan saya bahwa yang diperlukan untuk merekatkan kita dengan pasangan kita adalah kecocokan, bukan cinta.

Saya akan jelaskan apa yang saya maksud.

Biasanya cinta datang kepada kita ibarat seekor burung yang tiba- tiba hinggap di atas kepala kita. Saya menggunakan istilah "datang" karena sulit sekali (meskipun mungkin) untuk membuat atau mengkondisikan diri mencintai seseorang.

Setelah cinta menghinggapi kita, cinta pun mulai mengemudikan kita ke arah orang yang kita cintai itu. Sudah tentu kehendak rasional turut berperan dalam proses pengemudian ini.

Misalnya, kita bisa menyangkal hasrat cinta karena alasan-alasan tertentu. Tetapi, jika tidak ada alasan-alasan itu, kita pun akan menuruti dorongan cinta dan berupaya mendekatkan diri dengan orang tersebut.

Cinta biasanya mengandung satu komponen yang umum yakni rasa suka.

Sebagai contoh, kita berkata bahwa pada awalnya kita tertarik dengan gadis atau pria itu karena sabarannya, kebaikannya menolong kita, perhatiannya yang besar terhadap kita, wajahnya yang cantik atau sikapnya yang simpatik, dan sejenisnya. Dengan kata lain, setelah menyaksikan kualitas tersebut diatas timbullah rasa suka terhadapnya sebab memang sebelum kita bertemu dengannya kita sudah menyukai kualitas tersebut. Misalnya, memang kita mengagumi pria yang sabar, memang kita menghormati wanita yang lemah lembut, memang kita mengukai orang yang rela menolong orang lain dan seterusnya.
Jadi, rasa suka muncul karena kita menemukan yang kita sukai pada dirinya.
Saya yakin cinta lebih kompleks dari apa yang telah saya uraikan.

Namun khusus untuk pembahasan kali ini,saya membatasi lingkup cinta hanya pada unsur suka saja. Cocok dan suka tidak identik namun sering dianggap demikian.
Saya berikan contoh.
"Saya suka rumah yang besar dengan taman yang luas, tetapi belum tentu saya cocok tinggal di rumah yang besar seperti itu. Saya tahu saya tidak cocok tinggal di rumah sebesar itu sebab saya bukanlah tipe orang yang rajin membersihkan dan memelihara taman (yang dengan cepat akan bertumbuh kembang menjadi hutan). Itulah salah satu contoh di mana suka tidak sama dengan cocok.

Contoh yang lain. Rumah saya kecil dan cocok dengan saya yang berjadwal lumayan sibuk dan kurang ada waktu mengurusnya.

Namun saya kurang suka dengan rumah ini karena bagi saya, kurang besar(tamannya). Pada contoh ini kita bisa melihat bahwa cocok berlainan dengan suka. Pada intinya, yang saya sukai belum tentu cocok buat saya; yang cocok dengan saya belum pasti saya sukai. Sekarang kita akan melihat kaitannya dengan pemilihan pasangan hidup.

Tatkala kita mencintai seseorang, sebenarnya kita terlebih dahulu menyukainya,dalam pengertian kita suka dengan ciri tertentu pada dirinya. Rasa suka yang besar (yang akhirnya berpuncak pada cinta) akan menutupi rasa tidak suka yang lebih kecil dan -- ini yang penting -- cenderung menghalau ketidakcocokan yang ada di antara kita. Di sinilah terletak awal masalah.

Ini yang acap kali terjadi dalam masa berpacaran.

Rasa suka meniup pergi ketidakcocokan di antara kita, bahkan pada akhirnya kita beranggapan atau berilusi bahwa rasa suka itu identik dengan kecocokan. Kita kadang berpikir atau berharap,"Saya menyukainya, berarti saya (akan) cocok dengannya." Salah besar!

Suka tidak sama dengan cocok; cinta tidak identik dengan cocok!

Alias, kita mungkin mencintai seseorang yang sama sekali tidak cocok dengan kita.

Pada waktu TUHAN menciptakan Hawa untuk menjadi istri Adam, IA menetapkan satu kriteria yang khusus dan ini hanya ada pada penciptaan istri manusia, yakni, "Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

Kata "sepadan" dapat kita ganti dengan kata "cocok." TUHAN tidak hanya menciptakan seorang wanita buat Adam yang dapat dicintainya, IA sengaja menciptakan seorang wanita yang cocok untuk Adam. TUHAN tahu bahwa untuk dua manusia bisa hidup bersama mereka harus cocok.


Menarik sekali bahwa TUHAN tidak mengagungkan cinta (romantik) sebagai prasyarat pernikahan. TUHAN sudah memberi kita petunjuk bahwa yang terpenting bagi suami dan istri adalah kecocokan. Ironisnya adalah, kita telah menggeser hal esensial yang TUHAN tunjukkan kepada kita dengan cara mengganti kata "cocok" dengan kata "cinta." TUHAN menginginkan yang terbaik bagi kita; itulah sebabnya Ia telah menyingkapkan hikmat-NYA kepada kita.

Sudah tentu cinta penting, namun yang terlebih penting ialah, apakah ia cocok denganku?

Saya teringat ucapan Norman Wright, seorang pakar keluarga di Amerika Serikat, yang mengeluhkan bahwa dewasa ini orang lebih banyak mencurahkan waktu untuk menyiapkan diri memperoleh surat ijin mengemudi dibanding dengan mempersiapkan diri untuk memilih pasangan hidup. Saya kira kita telah termakan oleh motto, "Cinta adalah segalanya," dan melupakan fakta di lapangan bahwa cinta (romantik) bukan segalanya.

Jadi, kesimpulannya ialah, cintailah yang cocok dengan kita!

Teman-teman ini saya juga berikan sebuah doa untuk menemukan pasangan hidup yang tepat dan cocok,doa ini sangat indah semoga juga bisa memberikan kesadaran bahwa semua itu akan kita kembalikan kepada Sang Empunya Kehidupan. ini saya buat dua versi yang bisa digunakan sesuai jenis kelamin dan kebutuhan teman2. Jika artikel dan doa ini Anda rasa berguna...berikan kepada mereka yang membutuhkan dan yakinlah niat baik Anda pasti tidak akan pernah sia-sia... semoga bermanfaat]


"PRAYER FOR LIFETIME PARTNER"

TUHAN-ku,

Aku berdoa untuk seorang pria/wanita, yang akan menjadi bagian dari hidupku.

Seorang yang sungguh mencintai-MU lebih dari segala sesuatu.
Seorang pria/wanita yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau.

Seorang pria/wanita yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk-MU.

Wajah ganteng/cantik dan daya tarik fisik tidaklah penting.
Yang paling penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai dan haus akan Engkau dan memiliki keinginan untuk menjadi seperti Engkau.
Dan ia haruslah mengetahui bagisiapa dan untuk apa ia hidup, sehingga hidupnya tidaklah sia-sia.

Seseorang yang memiliki hati yang bijak bukan hanya otak yang cerdas. Seorang
pria/wanita yang tidak hanya mencintaiku tetapi juga menghormati aku. Seorang
pria/wanita yang tidak hanya memujaku tetapi dapat juga menasehati ketika aku berbuat salah.
Seorang yang mencintaiku bukan karena kecantikanku/ketampanan tetapi karena hatiku.
Seorang pria/wanita yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam tiap waktu dan
situasi. Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita/pria ketika berada di sebelahnya.

Aku tidak meminta seorang yang sempurna, Namun aku meminta seorang yang
tidak sempurna, sehingga aku dapat membuatnya sempurna dimataMU.

Seorang pria/wanita yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya.
Seorang pria/wanita yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya.
Seseorang yang membutuhkan senyumanku untuk mengatasi kesedihannya. Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.

Dan aku juga meminta :

Buatlah aku menjadi seorang wanita/pria yang dapat membuat pria/wanita itu bangga dan bahagia.

Berikan aku sebuah hati yang sungguh mencintaiMU, sehingga aku dapat mencintainya dengan cintaMU, bukan mencintainya dengan sekedar cintaku.

Berikanlah RohMU yang lembut sehingga kecantikanku/ketampananku datang dariMU bukan dari luar diriku. Berilah aku tanganMU sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya.
Berikanlah aku mataMU sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dalam
dirinya dan bukan hal buruk saja.
Berikan aku mulutMU yang penuh dengan kata-kata kebijaksanaanMU dan pemberi
semangat, sehingga aku dapat mendukungnya setiap hari.
Berikanlah aku bibirMU dan aku akan tersenyum padanya setiap pagi.

Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat
mengatakaan "betapa besarnya TUHAN itu karena Engkau telah memberikan
kepadaku seseorang yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna". Aku
mengetahui bahwa Engkau menginginkan kami bertemu pada waktu yang tepat dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang Kautentukan.

Amin

Thursday, May 3, 2007

God Calling 3 May

BUNUHLAH “aku “ SEKARANG

Menurunkan “aku” dari kursi di hatimu – itulah
pelajaran yang harus dikuasai, dan sebagai gantinya
tempatkanlah Kasih kepadaKu yang berasal dari
pengetahuan tentang Aku.

Bukan saja “aku” yang diturunkan tetapi “aku” yang
mati; “aku” yang mati bukan “aku” yang dipenjarakan;
“aku” yang dipenjarakan lebih berbahaya. Dalam semua
latihan, latihanKu untukmu dan latihanmu untuk orang
lain, biarkanlah “aku” mati.
Tetapi untuk setiap pukulan terhadap “aku”, engkau
pada waktu yang sama harus memeluk dan memegang dengan
erat, Hidup yang baru, Hidup dengan Aku.

Bukan “aku” yang mati yang harus ditakuti manusia,
tetapi “aku” yang dihalangi, yang dikunci, yang
dipenjarakan; “aku” yang dipenjarakan itu jauh lebih
bersifat mementingkan diri sendiri daripada “aku” yang
mendapat kebebasan melakukan kehendaknya. Tetapi
kepada kamu, anak-anakKu, Aku mengajar suatu hukum
pengetahuan yang lebih tinggi daripada kebebasan
“aku”. Aku mengajarmu kematian “aku”. Bukan
penindasan, tetapi “aku” yang mati. "mementingkan diri
sendiri" yang picik digantikan dengan Hidup Ilahi.

Dan sekarang Aku dapat menjelaskan lebih jauh kepadamu
tentang pengampunan orang lain. Adalah salah satu
perintahKu bahwa dalam meminta pengampunan kepadaKu,
engkau juga harus mengampuni.

AnakKu, sebagaimana halnya Kasih sejati berasal dari
Tuhan dan adalah Tuhan, maka semua pengampunan sejati
berasal dari Tuhan dan adalah Tuhan. “aku” tidak mampu
mengampuni. Bunuhlah “aku”.

Salah sekali apabila engkau berhenti mengampuni mereka
yang berbuat salah kepadamu. Bunuhlah “aku” sekarang –
dalam hidup keseharianmu, dan kemudian engkau akan
menemukan tidak ada sesuatupun yang terluka, karena
satu-satunya yang terluka, yaitu “aku” telah mati.

Apabila hal ini muncul lagi dalam pikiranmu berarti
engkau telah menipu dirimu sendiri jika engkau
berpikir telah mengampuni.

Banyak orang menipu diri sendiri dalam hal ini.

Wednesday, May 2, 2007

God Calling 2 Mei

JIWA-JIWA YANG TERSENYUM

Untuk menaklukkan keadaan-keadaan yang malang,
taklukanlah dirimu. Jawaban terhadap keinginan
Rasul-rasulKu untuk mengikuti Aku adalah, “Karena itu
jadilah sempurna seperti Bapamu di Surga sempurna”.

Untuk mencapai sesuatu, engkau harus “menjadi”
sesuatu. Dalam segala keadaan, untuk dapat melakukan
dan melakukan dengan baik, “melakukan” itu harus
menjadi hasil secara tidak sadar dari “apa” engkau
adanya. Untuk dapat “melakukan” hal-hal yang sempurna,
“jadilah” sempurna.

Jangan takut, jangan takut, segalanya dalam keadaan
baik-baik saja. Biarlah sepanjang hari penuh dengan
doa-doa yang kecil kepadaKu, saat-saat di mana engkau
berbalik kepadaKu. Senyuman dari jiwa kepada seseorang
yang dikasihinya.

Manusia menyebut Bapa sebagai Sumber dari segala
sesuatu. Ya! Pandanglah Dia sebagai Sumber dari setiap
sinar matahari, dari setiap pantulan warna waktu
matahari terbenam, dari setiap pantulan cahaya di
permukaan air, dari setiap bunga yang indah, dari
setiap suka cita yang direncanakan.

Tentang Rosario

Berdasarkan pada teladan Maria, bisa dilihat Rosario adalah doa yang
hidup yang berkaitan dengan kehendak Tuhan. Bila kita mengucapkannya
dari hati, doa itu akan menjadi jangkar harapan janji Tuhan terhadap
umat-Nya. Dalam masa peperangan, Rosario adalah senjata terakhir
untuk memenangkan perdamaian. Dalam masa damai, Rosario adalah sumber
kebahagiaan dan penghiburan. Tentu saja kita tergoda untuk berpikir
bahwa Rosario telah terbentuk seperti yang kita kenal sekarang ini;
bahwa Rosario diberikan kepada kita dalam bingkisan rapi, hasil
kemasan Maria sendiri; bahwa manik-manik dan doa-doanya telah disusun
dengan cantik. Bukan seperti kenyataannya. Seperti semua devosi kita,
yang kita kenal hari ini adalah suatu bentuk yang mengalami
perkembangan.

Maria dan Kebun Mawar

Kata Rosario berasal dari bahasa Latin, rosarium, artinya "kebun
mawar". Pertalian antara kebun mawar dengan Maria dapat dilihat dalam
Kitab Suci umat Yahudi, dalam Kidung Agung. Di dalam Kidung Agung
ditulis seorang wanita cantik yang tinggal di sebuah kebun. Ia
digambarkan sebagai "bunga mawar dari Saron, bunga bakung di lembah-
lembah" (Kidung Agung 2:1). Hubungan antara mawar dan kebun mawar
dengan Maria semakin menunjukkan maknanya dalam tradisi umat Katolik
dalam abad ke-12, melalui tulisan dari Bernard dari Clairvaux dan
ordonya Benediktin. Seni religius juga menampilkan mawar sebagai
perlambang Maria.

Manik-manik Rosario

Tak ada tanggal yang pasti tentang asal muasal Rosario. Bila kita
memahami Rosario sebagai rangkaian manik-manik yang digunakan untuk
menghitung doa, maka asal muasalnya jauh sebelum kelahiran Kristus,
yaitu abad 9 Sebelum Masehi, ketika bangsa Hindu mulai menggunakan
manik-manik untuk berdoa. Rosario adalah rangkaian doa dan renungan
peristiwa Alkitab yang dilakukan dengan alat bantu serangkaian manik-
manik.

Ada beberapa petunjuk cerita berkaitan dengan asal-usul Rosario.
Tahun 1409 seorang rahib dari Ordo Kartusian Santo Dominikus dari
Prusia menambahkan meditasi 'peristiwa' setiap berdoa 10 Salam Maria.
Kemudian sekitar tahun 1475 pater-pater dari ordo Dominikan di Koeln,
Jerman menetapkan 15 peritiwa tertentu. Dua puluh tahun kemudian,
rangkaian doa seperti ini dipuji oleh Paus. Rosariopun mendapatkan
bentuk seperti sekarang.

Persetujuan Gereja

Persetujuan Gereja tentang Rosario - atau setidaknya pengakuan secara
resmi dinyatakan pada 1571, atas jasa para Dominikan dan pembentukan
Persaudaraan Rosario. Persaudaraan Rosario ini menerbitkan buku
tentang Rosario yang berhasil membuatnya dikenal. Paus Pius V dan Leo
III adalah tokoh-tokoh penting dalam mempromosikan Rosario.

Teologi Rosario

Teologi Rosario ditemukan dalam sejumlah peristiwa: tali digunakan
untuk menjalin manik-manik dan the meaningful backdrop against which
the prayers are posed. Tanpa struktur seperti ini, kisah penjelmaan
Kristus, kematian dan kebangkitannya, Rosario tidak akan menjadi
devosi mendalam seperti sekarang ini. Bila diucapkan di luar konteks
cerita Kristiani, sepuluh Salam Maria dalam Rosario tidak lagi
berarti dan doa-doa akan menjadi sekadar ulangan kata.

Peristiwa-peristiwa mengatur renungan yang diselipkan di antara doa
Bapa Kami dan Salam Maria menjadi meditasi yang berkesinambungan
tentang kehidupan Yesus dan Maria; kelima belas peristiwa juga
merupakan ringkasan dari tahun liturgi, selain itu jumlah 150 juga
berasal dari jumlah mazmur. Rosario mengkisahkan sejarah keselamatan
manusia yang terdapat dalam Injil. Dimulai dengan peristiwa gembira,
lewat malaikat Gabriel Tuhan memilih Maria untuk menjadi Ibu Putera-
Nya, Yesus Kristus hingga Yesus bangkit dari kematian, naik ke surga,
dan bagaimana para rasul yang ketakutan berdoa bersama Maria ketika
Roh Kudus turun atas para Rasul. Maria memperlihatkan bagaimana ia
selalu mengikuti kehendak Tuhan hingga diangkat ke surga dan
dimahkotai di surga. Maria memberi contoh bagaimana mengikuti
kehendak Tuhan dan kita pun diajak berbuat serupa.

Dalam melakukan meditasi peristiwa, kita merenungkan pada kondisi
kemanusiaan kita: kebebasan kita dari pembatasan berkat kelahiran
Kristus, penderitaan kita sendiri serta kematian yang dekat melalui
sengsara dan penyaliban Kristus dan harapan kita untuk kehidupan baru
dalam kebangkitan Kristus dan kenaikannya ke Surga.

Edward Schillebeeckx menulis nilai Rosario dapat ditemukan dalam
pemusatan pikiran pada misteri penyelamatan Penebusan. Adalah Kristus
yang membawa penebusan ini, tetapi Maria hadir secara aktif dan
berhubungan dengan seluruh susunan historis penyelamatan. Rosario
adalah syahadat Kristologis tiruan, sebuah symbolum atau ringkasan
dogma dan doktrin, dalam bentuk doa meditasi, ringkasan, doa dari
seluruh dogma Penebusan. Bila kita berdoa Rosario, kita melakukan
yang dilakukan Maria....Adalah dengan renungan doa ia belajar
memahami misteri Kristus dan menyadari tempatnya yang luarbiasa dalam
kebijaksanaan dan kesederhanaan Penebusan. Hanya dengan menjadi
semakin dekat dengan 'Misteri Kristus' yang mencakup Misteri Maria,
kita juga akan dapat memahami kedudukan kita dan panggilan kita yang
sesungguhnya dalam dunia yang telah ditebus ini.

Rosario Masa Kini

Rosario masa kini terdiri dari pembacaan lima belas dekade (puluhan)
Salam Maria, (jumlah 150 juga berasal dari jumlah mazmur). Kita masuk
dalam tubuh Rosario, dengan menyatakan peristiwa gembira pertama,
yaitu Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel dan membaca
renungan singkat tentang hal itu. Kemudian kita mulai doa-doa puluhan
pertama dengan doa Bapa Kami yang diikuti dengan sepuluh Salam Maria,
masing-masing diwakili dengan sebuah manik, Kita mengakhiri puluhan
pertama tadi dengan Kemuliaan Kepada Bapa dan terkadang dengan Ya
Yesusku, doa yang diperkenalkan dalam penampakan Bunda Maria di
Fatima, "Ya Yesusku, ampunilah dosa-dosaku. Selamatkanlah kami dari
api neraka. Bimbinglah jiwa kami ke surga, terutama mereka yang
sangat membutuhkan rahmat-Mu."

Setelah hening sejenak, peristiwa Gembira kedua disampaikan, meditasi
dibacakan dan proses berulang hingga peristiwa Mulia terakhir
disampaikan atau direnungkan dan doa puluhan diucapkan. Seluruhnya
ada lima belas peristiwa dan lima belas puluhan. Walaupun demikian,
seringkali kita hanya berdoa lima puluhan atau satu seri Peristiwa.

Paus Yohanes Paulus II mengatakan: jadikanlah doa Rosario "rantai
penuh rahmat yang menghubungkanmu ke surga" melalui Bunda Maria

Renungan 2 May

"Aku datang bukan untuk menghakimi dunia melainkan untuk menyelamatkannya. "

(Kis 12:24-13:5a; Yoh 12:44-50)

Ign.Sumarya SJ

"Tetapi Yesus berseru kata-Nya: "Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku; dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku. Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman. Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. Dan Aku tahu, bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan, Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepada-Ku." (Yoh 12:44-50), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Atanasius, Uskup dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Yesus adalah Penyelamat Dunia dan kedatanganNya di dunia ini tidak lain adalah untuk menyelamatkan dunia. Maka kita semua yang beriman atau percaya kepadaNya juga memperoleh tugas perutusan atau panggilan yang sama, berpartisipasi dalam tugas perutusanNya untuk menyelamatkan dunia. Untuk itu kita harus sungguh mendunia, terlibat dalam seluk-beluk atau urusan duniawi, dan hemat saya kita semua memanfaatkan tenaga, waktu, perhatian dan kekayaan kita untuk urusan duniawi atau seluk-beluk duniawi. Semakin mendunia harus semakin beriman dan dengan demikian dengan mendunia orang semakin dekat dengan Tuhan dan sasama alias semakin suci. "Jangan hanya mencari kesucian di tempat ibadat atau tempat-tempat suci, tetapi terutama dan pertama-tama carilah kesucian di WC, kamar mandi, kamar makan, kamar tidur, tempat kerja, di jalanan dst..", demikian kata Romo JB Mangunwijaya Pr alm. Dalam mendunia kita dipanggil untuk meneladan Yesus yang bersabda: "Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepadaKu, jangan tinggal di dalam kegelapan". Kehadiran atau kedatangan kita dimanapun dan kapanpun diharapkan menjadi 'terang' bagi sesama, artinya antara lain kehadiran dan kedatangan kita senantiasa menghidupkan, menggairahkan dan menyelamatkan sesama, tempat yang kita datangi atau kunjungi menjadi semakin sejuk dan nyaman, tugas pekerjaan kita selesaikan dengan baik pada waktunya dst.. Tugas pekerjaaan atau kesibukan kita macam apapun diharapkan menjadi 'terang' bagi sesama dan lingkungan hidup di mana kita juga berada dan bekerja di dalamnya. Jauhkan dan hindari cara berkata dan bertindak yang bersifat 'mengadili', yang secara konkret pada umumnya berarti melecehkan atau merendahkan sesama..

· "Firman Tuhan makin tersebar dan makin banyak didengar orang" (Kis 12:24). Kutipan ini kiranya baik kita renungkan. Jika pada hari ini kita kenangkan pesta St.Atanasius, yang dikenal sebagai Uskup dan Pujangga Gereja, kiranya kutipan tersebut juga mengingatkan para bapak uskup serta pembantu-pembantuny a, entah para imam/pastor atau katekis serta umat beriman pada umumnya. "Para Uskup adalah pemimpin seluruh pelayanan Sabda, para imam sebagai rekan kerja para Uskup memaklumkan Injil Allah dan terutama para pastor paroki melayani umat yang dipercaya kepada mereka, para anggota Lembaga Hidup Bakti memberi kesaksian khusus tentang Injil dengan tri-kaulnya, kaum beriman kristiani awam adalah saksi-saksi warta Injil dengan perkataan dan teladan hidup kristiani" (lih KHK kan 756-759). Lebih-lebih para anggota Lembaga Hidup Bakti serta kaum beriman kristiani kiranya lebih tersebar ke mana-mana sesuai dengan tempat tinggall/rumah atau tempat kerja/kantor mereka. Maka jika mereka atau kita sungguh-sungguh memberi kesaksian Injil/Firman Allah dengan perkataan dan perbuatan atau teladan hidup kristiani, kiranya kutipan di atas 'Firman Tuhan makin tersebar dan makin banyak didengar orang' segera menjadi kenyataan. Semakin banyak orang mendengarkan firman Tuhan dan semakin beriman, sehingga dunia ini semakin selamat, damai sejahtera, aman sentosa. Marilah tanpa takut dan gentar bersaksi tentang iman kita dengan dan melalui teladan hidup kristiani, yang antara lain dijiwai oleh " kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri." (Gal 5:22-23)

"Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya, supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan- Mu di antara segala bangsa. Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai, sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi" (Mzm 67:2-3.5).

Jakarta, 2 Mei 2007

Tuesday, May 1, 2007

kupu-kupu

Seseorang menemukan kepompong seekor kupu-kupu.

Dari lubang kecil kepompong muncul seekor kupu-kupu.
Dia duduk dan mengamati kupu-kupu itu dalam beberapa jam ketika dia
berjuang
dengan memaksakan dirinya melewati lubang kecil itu.
Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan.
Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh
lagi.


Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya,
dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu.

Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya.
Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil, dengan sayap-sayap mengkerut.
Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa, pada suatu
saat, sayap-sayap itu
akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yang mungkin
akan berkembang dalam waktu yang singkat. namun....semuanya tak pernah
terjadi
.

Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya
merangkak disekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut.
Dia tidak pernah bisa terbang. Yang tidak mengerti dari kebaikan
dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan
perjuangan
yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah
cara untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu
ke dalam sayap-sayapnya sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh
kebebasan dari kepompong tersebut.

Kadang-kadang............................
perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita.
Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin melumpuhkan
kita.
Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya kita mampu.
Sering kita memohon kekuatan dan Tuhan memberi kita kesulitan-kesulitan
untuk membuat kita kuat.
Kita memohon kebijakan ....... dan Tuhan memberi kita
persoalan untuk diselesaikan.
Kita memohon kemakmuran ......... dan Tuhan memberi kita otak
dan tenaga untuk bekerja.
Kita memohon keteguhan hati ... dan Tuhan memberi kita
bahaya untuk diatasi.
Kita memohon cinta .... dan Tuhan memberi kita orang-orang
bermasalah untuk ditolong.
Kita memohon kemurahan/kebaikan hati.... Dan Tuhan memberi
kita kesempatan-kesempatan.
Mungkin kita merasa bahwa kita tidak memperoleh yang kita inginkan,
tapi Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan.

RINGKASAN KRONOLOGI KEHIDUPAN YESUS DALAM KE-EMPAT INJIL

Kelahiran Yesus di Bethlehem: Mat 1:18-25; Luk 2:1-7
Kunjungan gembala domba di Bethlehem: Luk 2:8-20
Dibawa ke Bait Allah di Yerusalem: Luk 2:21-40
Dikunjungi oleh Tiga Majus di Bethlehem: Mat 2:1-12
Pelarian ke Mesir: Mat 2:13-18
Kembali ke Nazaret: Mat 2:19-23
Kunjungan ke Bait Allah di Yerusalem, umur 12 tahun: Luk 2:41-52
Dibaptis di sungai Yordan: Mat 3:13-17; Mk 1:9-11; Luk 2:31-23; Yoh
1:29-30
Dicobai oleh Iblis di padang gurun: Mat 4:1-11; Mk 1:12-13; Luk 4:1-13
Mujizat pertama, yaitu di Kana: Yoh 2:1-11
Yesus menyucikan Bait Allah (mengusir para pedagang dan penukar uang):
Yoh 2:14-22
Percakapan antara Yesus dengan Nikodemus: Yoh 3:1-21
Percakapan antara Yesus dengan perempuan Samaria: Yoh 4:5-42
Anak seorang pegawai istana, disembuhkan: Yoh 4:46-54
Warga kampung halaman Yesus coba membunuh-Nya: Luk 4:16-31
Empat orang nelayan menjadi murid Yesus: Mat 4:18-22; Mk 1:16-20; Luk
5:1-11
Ibu mertua Petrus disembuhkan: Mat 8:14-17; Mk 1:29-34; Luk 4:38-41
Perjalanan pertama, memberitakan Firman di daerah Galilea: Mat 4:23-
25;
Mk 1:35-39; Luk 4:42-44
Keputusan Matius menjadi murid Yesus: Mat 9:9-13; Mk 2:13-17; Luk
5:27-32
Yesus memilih ke-12 murid-Nya: Mk 3:13-19; Luk 6:12-15
Yesus menyampaikan Khotbah di Bukit: Mat 5:1-7:29; Luk 6:20-49
Yesus diurapi dengan minyak wangi oleh seorang perempuan berdosa: Luk
7:36-50
Yesus melakukan perjalanan lagi di daerah Galilea: Luk 8:1-3
Yesus memberitakan beberapa perumpamaan mengenai kerajaan sorga: Mat
13:1-52; Mk 4:1-34; Luk 8:4-18
Yesus meredakan badai: Mat 8:23-27; Mk 4:35-41; Luk 8:22-25
Anak perempuan Yairus yang mati, dibangkitkan kembali: Mat 9:18-26; Mk
5:21-43; Luk 8:40-56
Yesus mengutus ke-12 murid untuk memberitakan kerajaan Allah dan
menyembuhkan orang yang sakit: Mat 9:35-11:1; Mk 6:6-13; Luk 9:1-6
Yohanes Pembaptis (Yahya) dibunuh oleh Herod: Mat 14:1-12; Mk 6:14-29;
Luk 9:7-9
Yesus memberi makan kepada 5 ribu orang: Mat 14:13-21; Mk 6:30-44; Luk
9:10-17; Yoh 6:1-14
Yesus berjalan di atas air: Mat 14:22-33; Mk 6:45-52; Yoh 6:61-21
Yesus pergi ke kota Tire dan Sidon: Mat 15:21-28; Mk 7:24-30
Yesus memberi makan kepada 4 ribu orang: Mat 15:32-39; Mk 8:1-9
Petrus mengakui Yesus sebagai Anak Allah: Mat 16:13-30; Mk 8:27-30;
Luk
9:19-21
Yesus menjelaskan kepada murid-murid mengenai kematian-Nya yang akan
datang: Mat 16:21-26; Mk 8:31-37; Luk 9:22-25
Yesus dimuliakan di gunung: Mat 17:1-13; Mk 9:2-13; Luk 9:28-36
Yesus membayar bea di Bait Allah: Mat 17:24-27
Yesus hadir pada hari raya Pondok Daun: Yoh 7:11-52
Yesus menyembuhkan orang yang buta sejak lahir, Yoh 9:1-41
Yesus mengunjungi Maria dan Martha: Luk 10:38-42
Yesus membangkitkan Lazarus yang mati: Yoh 11:1-44
Yesus memulai perjalanan akhir menuju Yerusalem: Luk 17:11
Yesus memberkati anak-anak kecil: Mat 19:13-15; Mk 10:13-16; Luk
18:15-17
Yesus bicara kepada orang muda yang kaya: Mat 19:16-30; Mk 10:17-30;
Luk
18:18-30
Yesus kembali meramalkan kematian dan kebangkitan- Nya: Mat 20:17-19;
Mk
10:32-34; Luk 18:31-34
Yesus menyembuhkan Bartimeus yang buta: Mat 20:29-34; Mk 10:46-52; Luk
18:35-43
Yesus bicara kepada Zakheus: Luk 19:1-10
Yesus kembali ke Betania, mengunjungi Maria dan Martha: Yoh 11:55-12:1

MINGGU TERAKHIR SEBELUM PENYALIBAN

Yesus memasuki Yerusalem dalam suasana meriah: Mat 21:1-11; Mk 11:1-
10;
Luk 19:29-44; Yoh 12:12-19
Yesus mengutuk pohon kurma: Mat 21:18-19; Mk 11:12-14
Yesus kembali menyucikan Bait Allah: Mat 21:12-13; Mk 11:15-18
Farisi menanyakan dari mana Yesus peroleh kuasa: Mat 21:23-27; Mk
11:27-33; Luk 20:1-8
Yesus mengajar di Bait Allah: Mat 21:28-23:39; Mk 12:1-44; Luk 20:9-
21:4
Yesus diurapi dengan minyak wangi: Mat 26:6-13; Mk 14:3-9; Yoh12:2-11
Farisi mulai menyusun rencana penangkapan Yesus: Mat 26:14-16; Mk
14:10-11; Luk 22:3-6
Perjamuan Paskah: Mat 26:17-29; Mk 14:12-25; Luk 22:7-20; Yoh 13:1-38
Yesus menasihati dan menghibur murid-murid- Nya: Yoh 14:1-16:33
Taman Getsemani: Mat 26:36-46; Mk 14:32-42; Luk 22:40-46
Yesus ditangkap dan dibawa menghadap pada Makhamah Agama: Mat
26:47-27:26; Mk 14:43-15:15; Luk 22:47-23:25; Yoh 18:2-19:16
Penyaliban dan kematian Yesus: Mat 27:27:56; Mk 15:16-41; Luk 23:26-
49;
Yoh 19:17-30
Yesus dikubur: Mat 27:57-66; Mk 15:42-47; Luk 23:50-66; Yoh 29:31-42

SETELAH KEBANGKITAN YESUS

Kuburan Yesus ditemukan dalam keadaan kosong: Mat 28:1-10; Mk 16:1-8;
Luk 24:1-12; Yoh 20:1-10
Maria Magdalena melihat Yesus di kebun: Mk 16:9-11; Yoh 2:11-18
Yesus menampakkan diri kepada dua murid dalam perjalanan luar kota: Mk
16:12-13
Yesus menampakkan diri kepada 10 murid: Mk 16:14; Luk 24:35-43; Yoh
20:19-25
Seminggu kemudian, Yesus menampakkan diri kepada 11 murid: Yoh 20:26-
31
Setelah seminggu lagi, Yesus bicara dengan beberapa murid-Nya: Yoh
21:1-25
Kenaikan Yesus kepada Bapa di sorga: Mat 28:16-20; Mk 16:19-20; Luk
24:44-53

Renungan 1 May

"Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa"

(Kis 11:19-26; Yoh 10:22-30)

Ign.Sumarya SJ

"Tidak lama kemudian tibalah hari raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem; ketika itu musim dingin. Dan Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Salomo. Maka orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya: "Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami." Yesus menjawab mereka: "Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba- Ku. Domba-domba- Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu."(Yoh 10:22-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengawali bulan Mei, bulan Maria, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:· Semakin terbuka atau transparan semakin menimbulkan pertanyaan serta kebingungan sementara orang, begitulah yang sering terjadi. Ketika usaha pembongkaran dan pemberantasan korupsi di kalangan pejabat tinggi di negeri ini merangkak maju pelan-pelan muncullah ketegangan antara percaya dan tidak percaya bahwa pejabat tinggi yang bersangkutan korupsi. Rasanya lebih banyak yang percaya daripada yang tidak percaya, maka jika penyingkapan korupsi berjalan terus hemat saya cita-cita 'kesejahteraan sosial bagi seluruh bangsa' segera terwujud. Maka kami berharap semoga para pejuang kebenaran dan petugas pemberantas korupsi tetap percaya diri dengan 'melakukan pekerjaan-pekerjaan nya dalam nama Tuhan' alias sesuai dengan kehendak Tuhan. Percayalah jika kita tetap terbuka atau transparan akan semakin banyak orang menjadi percaya kepada kita dan dengan demikian terdorong atau termotivasi untuk menyerahkan diri pada Penyelenggaraan Ilahi. "Pekerjaan-pekerjaa n yang Kulakukan dalam nama BapaKu, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku", demikian kata Yesus kepada orang-orang Yahudi yang kurang atau tidak percaya kepadaNya. Kiranya kita juga dapat meneladan Yesus dengan memberi kesaksian iman kita dalam hidup sehari-hari, dalam keluarga, tempat kerja maupun masyarakat. Dengan kesaksian iman atau apapun yang kita kerjakan maka orang akan mengenal siapa kita sebenarnya, siapa 'jati diri' kita. Marilah kita perkenalkan dan sebarluaskan iman kepercayaan kita kepada Tuhan lebih-lebih melalui atau dalam kesaksian, tindakan atau perbuatan, daripada dengan atau melalui kata-kata atau omongan. · "Sementara itu banyak saudara-saudara telah tersebar karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus dihukum mati. Mereka tersebar sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia" (Kis 11:19). Orang yang setia pada imannya akan tetap tegar dan dinamis terhadap aneka macam penganiayaan atau penderitaan. "Bless in disguised" (=rahmat terselubung) , itulah yang terjadi: penganiayaan atau penderitaan tidak mematikan atau melemahkan melainkan menghidupkan dan menggairahkan. Dalam hal ini kiranya kita memiliki teladan utama yaitu Bunda Maria, yang telah menelusuri 'via dolorosa'/jalan penderitaan; Bunda Maria adalah teladan hidup beriman. Maka baiklah ketika karena setia pada iman kita harus menghadapi aniaya dan derita, marilah kita menghadap Bunda Maria untuk mohon kekuatan dan pendampingannya: dorongan dan pendampingan seorang ibu pada umumnya sungguh mengena dan bermakna. Kita memiliki Bunda Maria, ibu yang senantiasa memperhatikan anak-anaknya, kita semua yang beriman kepada Puteranya. Dengan kata lain baiklah di bulan Maria ini kita tingkatkan pendarasan doa Rosario untuk secara pribadi atau bersama-sama atau berziarah kepada Bunda Maria di tempat-tempat peziarahan. Ketika kita sedang sendirian atau merasa ditinggalkan oleh sahabat dan teman, jadikanlah kesempatan tersebut untuk bertemu dan berdoa pada Bunda Maria. Pengalaman telah membuktikan bahwa orang yang sungguh setia pada imannya menjadi 'ragi atau garam' di masyarakat dan dengan demikian menjadi pioneer pewarta Kabar Gembira, menjadi misionaris sejati dalam hidup sehari-hari. Dengan ini juga kami berseru dan berharap pada rekan-rekan yang merasa sendirian sebagai murid atau pengikut Yesus Kristus, entah di masyarakat atau tempat kerja, untuk tetap tegar dan bergairah dalam bekerja atau melaksanakan tugas perutusan dan pekerjaan. "Aku melihat seorang malaikat lain terbang di tengah-tengah langit dan padanya ada Injil yang kekal untuk diberitakannya kepada mereka yang diam di atas bumi dan kepada semua bangsa dan suku dan bahasa dan kaum,dan ia berseru dengan suara nyaring: "Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman- Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air" (Why 14:6-7)Jakarta, 1 Mei 2007

God Calling 1 May

PENUNDAAN BUKANLAH PENOLAKAN

Lihatlah pelajaran mengenai kontrol Ilahi di dalam
hukum alam. Alam hanyalah pernyataan Pikiran Kekal
dalam Waktu. Pelajarilah bentuk luarnya – cobalah
mengerti Pikiran Ilahi dan kalau engkau dapat membaca
pikiran Bapa, maka berarti engkau betul mengenal-Nya.

Ikutkanlah Aku dalam segala sesuatu. Kasihilah semua
JalanKu yang Aku jalani bersamamu. Ketahuilah dengan
sungguh-sungguh bahwa segalanya dalam keadaan
baik-baik saja. Penundaan hanyalah sikap menahan diri
yang ajaib dan penuh kasih dari Bapamu, tetapi
merupakan kontrol Ilahi dari seorang Bapa yang
sebenarnya tidak sanggup menahan penolakan.

Penundaan kadang-kadang perlu. Hidupmu begitu saling
berkaitan dengan orang lain, begitu terikat dengan
keadaan sehingga untuk segera memenuhi keinginanmu,
dalam banyak hal bisa berakibat doa lain yang
dipanjatkan dengan penuh kesungguhan dan ketulusan
hati, tidak bisa dikabulkan.

Tetapi cobalah pikirkan untuk sesaat tentang Kasih dan
pemeliharaan yang penuh perhatian yang berusaha
menyelaraskan dan mempersatukan semua keinginanmu,
kerinduanmu, dan doa-doamu.

Penundaan bukanlah penolakan, bukan mengulur-ulur. Itu
memberikan kesempatan kepada Allah untuk mengatasi
persoalanmu dan memenuhi keinginanmu dengan cara yang
paling indah dan ajaib untukmu.

Oh anak-anakKu, percayalah Aku. Ingatlah bahwa
Penciptamu adalah juga Pelayanmu, cepat untuk
memenuhi, cepat untuk mencapai, setia dalam
menyelesaikan. Ya! Segalanya dalam keadaan baik-baik
saja.

Monday, April 30, 2007

Renungan 30 April

"Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dalam segala kelimpahan"

(Kis 11:1-18; Yoh 10:1-10)

Ign.Sumarya SJ

"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal." Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka. Maka kata Yesus sekali lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." (Yoh 1:1-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Dalam kunjungan pastoral ke Negara yang didatangi, begitu keluar dari pintu pesawat terbang, menuruni tanggap pesawat, Paus Yohanes Paulus II senantiasa kemudian berlutut mencium tanah Negara yang bersangkutan. Dalam acara resmi Paus juga sering menyimpang dari protokoler, yang begitu ketat. Cara bertindak yang demikian ini kiranya mau meneladan cara bertindak Penyelamat Dunia, Yesus, yang melepaskan ke Allah-anNya dan menjadi manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa atau menghayati sabda Yesus "Siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba". Rasanya kita semua yang beriman kepada Yesus dipanggil untuk bertindak sama: "masuk pada orang/kelompok lain melalui pintu". Secara konkret hal ini antara lain dapat kita laksanakan dengan berusaha 'menjadi sama dengan orang atau kelompok' yang kita kunjungi atau datangi dan cara berpastoral yang baik memang 'mengunjungi' . Untuk itu kita harus berani dengan hati besar dan rela berkorban 'melepaskan kebesaran atau atribut-atribut' yang melekat pada kita. Kita adalah sama-sama manusia, sama-sama beriman, sama-sama karyawan, sama-sama warga Negara dst.. Ketika masing-masing dari kita dengan mendalam menghayati apa yang sama di antara kita, maka kita akan saling menghidupkan dan menggairahkan dan kita datang semunya mempunyai hidup dalam segala kelimpahan. Tentu saja cara bertindak yang demikian itu pertama-tama dituntut dari mereka yang merasa di atas atau menjadi pemimpin, sehingga kedatangan seorang atasan atau pemimpin menyebabkan bawahan atau anggota mempunyai hidup dalam segala kelimpahan, dan kedatangan atasan atau pemimpin senantiasa dirindukan. Rasanya cara demikian pernah terjadi secara konkret ketika Paus Yohanes Paulus II berkunjung di Yogyakarta: baik umat katolik yang berparitisipasi dalam Perayaan Ekaristi yang dipersembahkan oleh Paus maupun masyarakat Yogya dan sekitarnya pada umum sungguh saat itu merasa mempunyai hidup dalam segala kelimpahan, karena mereka semua sungguh diuntungkan dalam kegiatan kunjungan pastoral Paus tersebut.

· "Kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup."(Kis 11:18) Kutipan ini kiranya layak menjadi pedoman dan permenungan kita. Yesus adalah Penyelamat Dunia, kedatanganNya untuk menyelamatkan 'dunia seisinya', bukan hanya manusia saja, apalagi yang mengakui diri sebagai Kristen atau Katolik. Sebagai murid-murid atau pengiikutNya kita dipanggil untuk 'mendunia', berpartisipasi dalam seluk-beluk dan urusan duniawi setiap hari; tentu saja kedatangan atau kehadiran kita bukan untuk merusak melainkan untuk menyelamatkan. Maka dimana ada murid atau pengikut Yesus berada dan hadir maka situasi hidup menjadi damai, tenang, menggairahkan dan menyenangkan: semuanya hidup dan bekerja sesuai dengan kehendak Tuhan. Baiklah jika ada bagian dunia yang tidak/kurang selamat, damai dan sejahtera, kita berani mendatangi dan menyelamatkannya. Mungkin bagian dunia tersebut tidak terlalu jauh dari kita melainkan ada di sekitar kita, misalnya tempat tinggal/rumah atau tempat kerja/kantor, dimana setiap hari kita hidup dan sibuk. Kiranya kita semua berharap agar rumah maupun kantor kita sungguh menarik dan disukai oleh semua orang dan orang atau siapapun yang mendatangi rumah atau kantor kita merasa hidup, bahkan kemudian mempunyai hidup dalam segala kelimpahan. Marilah kita galang dan perdalam persaudaraan atau persahabatan sejati dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

"Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?

(Mzm 42:2-3)

Jakarta, 30 April 2007

Bacaan 30 April 2007

Kisah Para Rasul 11 : 1 - 18

Kis 11 : 1
Rasul-rasul dan saudara-saudara di Yudea mendengar, bahwa bangsa-bangsa
lain juga menerima firman ALLAH.

Kis 11 : 2 - 3
Ketika Petrus tiba di Jerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat
berselisih pendapat dengan dia. Kata mereka: "Engkau telah masuk ke rumah
orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka."

Kis 11 : 4 - 6
Tetapi Petrus menjelaskan segala sesuatu berturut-turut, katanya: "Aku
sedang berdoa di kota Yope, tiba-tiba rohku diliputi kuasa Ilahi dan aku
melihat suatu bentuk penglihatan; suatu benda berbentuk kain lebar yang
bergantung kepada keempat sudutnya diturunkan dari langit sampai didepanku.
Aku menatapnya dan didalamnya, aku lihat segala jenis binatang berkaki empat
dan binatang liar dan binatang menjalar dan burung-burung. "

Kis 11 : 7 - 8
Lalu aku mendengar suara berkata kepadaku: "Bangunlah hai Petrus,
sembelihlah dan makanlah." Tetapi aku berkata: "Tidak, TUHAN, tidak, sebab
belum pernah sesuatu yang haram dan yang tidak tahir masuk ke mulutku."

Kis 11 : 9 - 11
Akan tetapi untuk kedua kalinya suara dari Surga berkata kepadaku: "Apa
yang dinyatakan halal oleh ALLAH , tidak boleh engkau nyatakan haram!" Hal
itu terjadi sampai tiga kali, lalu semuanya terangkat ke langit. Dan
seketika itu juga tiga orang berdiri didepan rumah, di mana kami menumpang;
mereka diutus kepadaku dari Kaisarea.

Kis 11 : 12 - 14
Lalu kata Roh kepadaku: "Pergi bersama mereka dengan tidak bimbang!" Dan
keenam saudara ini menyertai aku. Kami masuk ke dalam rumah orang itu,
dan ia menceritakan kepada kami, bagaimana ia melihat seorang malaikat
berdiri di dalam rumahnya dan berkata kepadanya: "Suruhlah orang ke Yope
untuk menjemput Simon yang disebut Petrus. Ia akan menyampaikan suatu
berita kepada kamu, yang akan mendatangkan keselamatan bagimu dan bagi
seisi rumahmu."

Kis 11 ; 15 - 16
Dan ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama
seperti dahulu keatas kita. Maka teringatlah aku akan perkataan TUHAN:
"Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus."

Kis 11 : 17
"Jadi, jika ALLAH memberikan karunia-NYA kepada mereka sama seperti
kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimana
mungkin aku mencegah DIA?"

Kis 11 : 18
Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan
ALLAH, katanya: "Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga ALLAH mengaruniakan
pertobatan yang memimpin kepada hidup."

Yohanes 10 : 1 - 10
Yoh 10 : 1 - 2
AKU berkata kepadamu: "Sesungguhnya siapa yang masuk kedalam kandang domba
dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembaok, ia adalah
seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi, siapa yang masuk melalui
pintu, ia adalah gembala domba."

Yoh 10 : 3
"Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan
ia memanggil domba-dombanya masung-masing menurut namanya dan menuntunnya
keluar."

Yoh 10 : 4 - 5
"Jika semua dombanya telah dibawanya keluar, ia berjalan didepan mereka dan
domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi,
seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya,
karena suara orang asing itu tidak mereka kenal."

Yoh 10 : 6
Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka
tidak mengerti apa maksudnya IA berkata demikian kepada mereka.

Yoh 10 : 7
Maka kata Yesus sekali lagi: "AKU berkata kepadamu, sesungguhnya AKU-lah
pintu ke domba-domba itu. Semua yang datang sebelum AKU adalah pencuri dan
perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka."

Yoh 10 : 9 - 10
"AKU-lah pintu; barangsiapa masuk melalui AKU, ia akan selamat dan ia akan
masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk
mencuri dan membunuh dan membinasakan; AKU datang, supaya mereka mempunyai
hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan."

God Calling 30 April

MUSIM SEMI

Bersuka cita dalam musim semi. Buatlah musim semi di
dalam hatimu. Musim buah belum sampai tetapi sudah ada
janji dari mekarnya bunga.

Yakinlah bahwa hidupmu juga penuh janji-janji gembira.
Berkat berlimpah-limpah, suka cita dan hal-hal yang
indah dan ajaib akan menjadi milikmu.

Segalanya betul dalam keadaan baik-baik saja. Hiduplah
di dalam Cahaya MatahariKu dan di dalam KasihKu.

Sunday, April 29, 2007

God Calling 29 April

KETIDAKSELARASAN

Carilah maka kamu akan mendapat. Akan mendapat
pengetahuan rohani, yang akan membuat
persoalan-persoalan hidup menjadi jelas.

Kesukaran hidup disebabkan oleh ketidakselarasan di
dalam diri manusia. Di dalam KerajaanKu tidak ada
ketidakselarasan, itu hanya sesuatu yang belum
ditaklukkan di dalam murid-muridKu. Hukum KerajaanKu
adalah keteraturan yang sempurna, keselarasan yang
sempurna, kepatuhan yang sempurna, Kasih yang
sempurna, kejujuran yang sempurna, kepatuhan yang
sempurna – segala kuasa, segala kemenangan, segala
sukses.

Tetapi begitu sering pelayan-pelayanKu kekurangan
kuasa, kemenangan, sukses, perbekalan, keselarasan,
dan merasa Aku gagal memenuhi janjiKu karena hal-hal
ini tidak menjadi kenyataan dalam hidup mereka.

Hal-hal itu merupakan kenyataan keluar sebagai hasil
kepatuhan, kejujuran, keteraturanm kasih – dan hal-hal
itu diperoleh bukan sebagai jawaban doa-doa yang
mendesak, tetapi begitu alamiah seperti datangnya
sinar dari lilin yang dinyalakan.

Injil Minggu Paskah IV/C

Injil Minggu Paskah IV/C

Tgl. 29 April 2007 (Yoh 10:27-30)

MEMPERCAYAI = MEMPERCAYAKAN DIRI?

Rekan-rekan yang baik!
Orang serta-merta merasa aman bila mengenal siapa yang sedang dihadapi. Dan sebaliknya juga, gampang orang merasa terancam hal-hal yang tak dikenal. Injil Yohanes 10:27-30 yang dibacakan pada hari Minggu Paskah IV tahun C ini menggambarkan keakraban antara Yesus dan pengikut-pengikutny a dengan memakai kiasan domba dan gembala. Ditawarkan dalam petikan ini analisis teologi mengenai hidup rohani. Orang merasa tenang di hadapan dia yang dapat membawakan hidup kekal. Tak ada kekuatan jahat apapun yang mampu menjauhkan darinya. Kepercayaan akan Yang Mahakuasa sendiri menjadi jaminan.

GEMBALA YANG BAIK

TANYA: Yoh 10 berbicara mengenai gembala yang baik dan menerapkannya kepada Yesus. Rasa-rasanya Yohanes mendapat ilham dari Perjanjian Lama?

JAWAB: Benar! Perjanjian Lama acap kali menggambarkan Tuhan sebagai gembala yang menjaga domba-dombanya, Mzm 23 contoh klasik. Orang yang berada di dekatNya tak perlu merasa kekurangan apapun. Lihat juga Mzm 28:2; 77:21; 78:52; Yer 23:3; 50:19. Yehezkiel maju lebih jauh. Ia berbicara mengenai Tuhan sebagai gembala yang membela umat dari para gembala yang menyalahgunakan kuasa, yakni para pemimpin yang hanya memperkaya diri, tidak peduli akan penderitaan rakyat dan bahkan menghisap, berlaku kejam dan membiarkan mereka kehilangan rasa aman. Lihat saja Yeh 34:1-10. Dan selanjutnya dalam Yeh 34:11-22, Ia sendiri akan mengumpulkan mereka yang tercerai berai, membebat luka, memberi rasa aman. Di dalam seluruh bab itu nabi Yehezkiel mengutarakan prinsip-prinsip moral sosial dan pengaturan masyarakat zamannya.

TANYA: Bisakah dikatakan Yoh 10 menerapkan gagasan Yehezkiel tadi bagi para murid Yesus?

JAWAB: Ya, tetapi Yohanes juga memberi arah baru. Ia tidak memperlawankan Yesus dengan gembala yang jahat, melainkan dengan "pencuri dan perampok" (ayat 1), dengan "orang asing" (ayat 5) dan dengan "orang upahan" (ayat 12-13). Yohanes tidak menampilkan dua tipe gembala seperti pada Yehezkiel. Hanya ada satu gembala saja, yakni Yesus sendiri. Memang ada orang-orang yang diminta mengurusi domba-domba. Ada yang sungguh baik, tapi ada yang bertindak sebagai orang upahan.

TANYA: Tolong dijelaskan lebih jauh!

JAWAB: Nabi Yehezkiel mengamati kehidupan sosial politik di Israel pada zaman pembuangan. Ia mengecam para pemimpin yang tak banyak berbuat bagi umat yang sedang kehilangan pegangan. Masalah yang dihadapi Yohanes berbeda. Banyak pengikut Yesus generasi pertama merasa kurang aman hidup di tengah-tengah masyarakat Yahudi. Terintimidasi. Dan memang ada yang meninggalkan. Tapi ada pula yang bertekun. Yohanes memakai keadaan ini untuk menjelaskan apa itu "percaya" kepada Yesus dan bagaimana mereka bisa menghayatinya bila mereka memang memilih mau tetap bersamanya. Yohanes menekankan Yesus sebagai gembala yang baik untuk menunjukkan bahwa percaya kepada Yesus tidak sia-sia karena ia sendiri akan melindungi murid-muridnya dengan mempertaruhkan hidupnya. Semacam analisis teologi hidup rohani. Kelanjutan dari perkara ini ada dalam penugasan Petrus agar mengurusi domba-domba dalam Yoh 21:15-19 yang dibicarakan minggu lalu.

TANYA: Lalu apa arti penegasan bahwa tak ada yang dapat merenggut domba-domba dari Yesus?

JAWAB: Di situ ada pernyataan mengenai kebenaran mengikuti dia yang mau merujukkan kemanusian kembali dengan Yang Mahakuasa, yang disebut sebagai Bapa itu. Artinya, membuat orang makin menemukan diri merasa dimiliki oleh Yang Mahakuasa dan bukan dibawahkan kepada kuasa lain. Kiasannya, gembala yang baik berusaha membuat orang makin sadar akan hal itu. Orang upahan tidak. Pencuri dan perampok menjauhkan orang dari sana. Orang yang tak dikenal juga tidak menimbulkan rasa percaya.

TANYA: Dalam Yoh 10:27 dibicarakan "domba-dombaku mendengarkan suaraku dan aku mengenal mereka dan mengikut aku". Pernyataan ini berbicara mengenai keadaan tertentu atau dimaksud untuk mengajak orang percaya dan mengikut Yesus.

JAWAB: Kedengarannya memang seperti pernyataan biasa. Namun di dalam kalimat itu terkandung nuansa "akan dapat mendengarkan suaraku, akan dapat mengikut aku". Katakan saja, di samping berbicara mengenai apa adanya juga diutarakan apa yang bakal terjadi.

TANYA: Dan tentunya nuansa "harus mendengarkan. .."?

JAWAB: Tidak! Gagasan keharusan tidak muncul dalam kalimat aslinya. Seandainya mau disampaikan makna seperti itu, akan dipakai ungkapan yang jelas-jelas menunjuk ke sana..

TANYA: Jadi perkara mengikuti Yesus tidak bersangkutan dengan wilayah "keharusan"?

JAWAB. Benar. Bila keharusan menjadi pokok pembicaraan, seluruh pembicaraan mengenai gembala yang baik akan tawar.

MEMPERCAYAKAN DIRI: MASALAH BESAR BAGI ZAMAN INI

Tidak sulit menyadari bahwa dalam tahun-tahun belakangan ini kita sedang mengalami krisis kepercayaan dalam pelbagai lapis kehidupan di masyarakat, juga dalam kehidupan agama. Memang kepercayaan belum hilang. Kebutuhan untuk itu makin dirasakan. Sering kepercayaan diterjemahkan ke dalam tatacara pertanggungjawaban serta birokrasi atau serangkai kesetujuan yang diandaikan bakal dihormati sebagian besar anggota masyarakat. Tetapi itu ini semua acap kali tidak sungguh menjamin. Orang malah merasa sering tertipu oleh ulah mereka yang mendapat kepercayaan mengurusi pertanggungjawaban. Ada kolusi di kalangan pemerintahan. Peradilan kotor. Tak sedikit aparat yang kejam. Malah sekarang tak jarang orang makin merasa sulit mempercayakan diri pada kelembagaan yang dibuat untuk menjamin kepercayaan publik seperti halnya lembaga perwakilan sendiri. Juga kelembagaan nonpolitik seperti perkawinan, adat, dan lembaga keagamaan. Banyak orang merasa tidak ada pegangan yang jelas. Ada yang kembali ke cara-cara dulu yang dirasa lebih menjamin, ada yang makin jauh dari kebiasaan dan mencoba apa saja. Lambannya pembenahan aparatur negara serta perbaikan hidup di negeri ini menjadi pertanda bagi kenyataan yang diutarakan di atas: krisis kepercayaan dalam pelbagai lapis kehidupan. Apatisme mulai melumpuhkan inisiatif.

Masalah yang aktual di mana-mana itu diuraikan dengan rapi dan tajam tapi dengan bahasa sederhana oleh seorang filsuf, Onora O'Neill, dalam "BBC Reith Lectures 2002: A Question of Trust". (Lihat www.bbc.co.uk/ radio4/reith2002 untuk teks dan audio filenya.) Ditekankan, krisis kepercayaan tidak dapat dikurangi dengan jalan bersikap pasrah membuta. Mempercayakan diri baru mungkin bila dijalankan dengan "good judgment" atau ikhtiar yang sungguh. Namun untuk itu orang butuh informasi yang sepadan. Terutama pada zaman kita yang sarat macam-macam informasi dan data yang tidak jelas juntrungnya.

Pembicaraan sarjana etika di atas tidak secara khusus mengupas hubungan antara rasa percaya - "trust" - dan "iman" karena ini memang lebih termasuk bidang pastoral kehidupan beragama. Bagaimanapun juga tidak jarang kepercayaan terhadap kelembagaan (termasuk para pemimpin) disamakan dengan iman, atau di ujung lain, samasekali dipisahkan. Akan tetapi, mempercayai bertumpang tindih dengan mengimani. Iman tidak bisa berkembang sehat bila tidak disertai kepercayaan terhadap orang-orang serta kelembagaan yang bertanggung jawab mengusahakan hidup iman mendapat ungkapan yang cocok, baik secara doktrin maupun secara liturgi. Tetapi kepercayaan melulu malah akan membuat iman bersifat buta dan mengarah ke perpecahan dan akhirnya tidak ada yang betul-betul dipegang sebagai iman kecuali keyakinan-keyakinan pribadi yang diharapkan agar diikuti orang lain.

WARTA YOHANES BAGI ZAMAN SEKARANG

Tersirat dalam kata-kata "domba-dombaku mendengarkan suaraku....mengikut aku" (Yoh 10:27) suatu imbauan untuk ikut membantu agar orang dapat mengenali siapa yang diikuti itu. Istilahnya, menyediakan informasi yang dapat diterima nalar dan yang bisa membantu orang untuk percaya. Teringat Yohanes Pembaptis yang menunjukkan. memberi informasi kepada murid-muridnya, siapa Yesus itu, "Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud.... " (Yoh 1:29-30). Kemudian ketika orang bertanya kepada Yesus sendiri di mana ia tinggal, jawabnya, "Mari ikut dan lihatlah!" (Yoh 1:38-39). Orang-orang yang diminta mengurusi domba-domba - seperti halnya Petrus dalam Yoh 21:15-19 - menjawab kebutuhan seperti ini. Orang upahan tidak. Mereka malah menyampaikan informasi yang palsu. Membodohi. Menyesatkan. Membiarkan orang dalam ketidaktahuan. Domba-domba akan merasa berhadapan dengan pihak-pihak yang tidak lagi dapat dikenali (Yoh 10:5) dan tak tahu bisa berbuat apa lagi. Tiada pegangan lagi. Keadaan ini mudah memburuk. Mereka akan mencari apa saja dan menjadi mangsa para "pencuri" dan para "perampok" (Yoh 10:1). Di Indonesia wacana mengenai keagamaan makin mbludag dan makin santer. Adakah yang dapat membantu memilah-milah dan memilih agar orang tidak jadi bulan-bulanan para penjaja informasi simpang siur, juga dalam bidang keagamaan? Ajakan tersirat Yohanes hari ini masih terdengar.

salam dan doa,

Yohanes Samiran SCJ

Saturday, April 28, 2007

God Calling 28 April

JALAN MEMUTAR

Aku membimbing melalui semak duri, melalui
tempat-tempat terlantar, melalui hutan belukar,
melalui gunung dan lembah. Tetapi kepemimpinanKu
selalu disertai Tangan yang menolong.

Betapa nikmat untuk mengikuti jejak Tuhan. Tetapi
ingatlah untuk bermacam-macam keadaan tidak berarti
engkau memerlukan bermacam-macam latihan.

Kita pergi mencari domba yang hilang, kita membawa
Kerajaan ke tempat-tempat di mana sebelumnya Kerajaan
itu tidak dikenal. Jadi sadarlah bahwa engkau
mendampingi Aku dalam misi abadiKu mencari jiwa-jiwa.
Aku tidak memilih jalan sulit dan melelahkan hanya
sekedar supaya sulit dan melelahkan; kita keluar
berjalan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Engkau
mungkin tidak melihat jiwa-jiwa yang kita cari. Aku
melihat dan mengenal mereka.