PENDIDIKAN MEDIA
Refleksi atas Pesan Paus Benediktus XVI pada Hari Komunikasi Sedunia 2007
Oleh Agus Alfons Duka, SVD
Pada tangal 24 Januari 2007, Paus Benediktus XVI mengeluarkan pesan komunikasi bagi seluruh umat manusia yang berkehendak baik, dan secara khusus untuk umat katolik sejagat dalam rangka Hari Komunikasi Sedunia ke-41 yang dirayakan pada 20 Mei 2007. Dengan mengambil tema 'Anak-anak dan Media: Sebuah Tantangan bagi Pendidikan', Sri Paus mengajak umat kristiani untuk merenungkan dan merayakan peranan media komunikasi dalam pendidikan anak. Dalam tema itu termuat dua pikiran dasar yang patut mendapat perhatian gereja, yakni pendidikan anak dalam hubungan dengan realitas yang diciptakan oleh media komunikasi ( realitas mediasi atau realitas representasi) , dan yang berikut adalah peran media sebagai penanggungjawab perkembangan hidup anak.
Pendidikan Anak dalam kaitannya dengan realitas mediasi
Kita sepakat, bahwa ketiga institusi tradisional yakni keluarga, gereja dan sekolah tidak lagi menjadi satu-satunya pencari, pengumpul dan penyaji informasi bagi masyarakat dan anak-anak. Kalau dahulu, seorang anak usia sekolah yang inosen, ragu-ragu dan membutuhkan suatu kejelasan tentang hal yang tak terpahami, ia berlari ke orang tua, bereferensi kepada ajaran-ajaran sekolah dan merujuk kepada nilai-nilai agama untuk menemukan jalan keluar. Kini, peran ketiga institusi itu diambil alih bahkan dengan cara yang lebih profesional oleh media komunikasi. Bisa terjadi bahwa seorang yang tamat SMU melalui pendidikan formal tidak memiliki cakupan pengetahuan yang melebihi seorang yang hanya menamati Sekolah Dasar tetapi mengetahui hampir lebih banyak hal dari sajian media komunikasi modern. Jangan heran bahwa peran guru sekolah kini menjadi lebih berat karena ia akan dipertemukan dengan para murid yang datang dengan sejumlah informasi dan pengetahuan berbasis media (koran, majalah, radio, televisi dan internet). Maka mau atau tidak, seorang guru di jaman information booming seperti sekarang ini dituntut untuk tanggap dan sigap dengan hadirnya jenis murid yang baru itu. Peran monolitik lembaga tradisional sebagai pewaris nilai dan pengetahuan menjadi direlativisir bahkan ditinggalkan. Dengan perkembangan media internet, semua lembaga itu menjadi berantakan. Silahkan mencermati mesin 'google', garasi informasi terbesar dalam dunia maya. Di sana semua informasi tentang apa saja dan dimana saja akan dihadirkan untuk bisa diakses dengan harga paling rendah malah secara gratis. Ensiklopedi dan kamus mulai ditinggalkan. Google menjadi 'buku pintar' pencari informasi yang tercepat, termudah dan terbaru mengikuti metodologi jurnalisme yang andal. Makanya, tak pelak, orang menyebut sebagai 'profesor google'. Informasi yang disajikan sangat diversifikatif karena berasal dari sumber yang beragam dengan idiologi yang juga beragam. Anak-anak akan terombang ambing untuk menentukan mana yang benar, mana yang baik untuk dicerna, dipercayai dan ditiru. Tak ada panduan moral untuk itu. Dan tanpa satu wadah diri yang kuat, anak-anak akan sangat mudah terjerumus dalam informasi yang dapat mencelakakan diri sendiri dan melecehkan orang lain. Jati diri mereka akan dibentuk berdasarkan realitas yang disajikan oleh media. Dan dalam situasi seperti itulah, pesan Paus Benediktus XVI menjadi sangat penting ketika ia mengajak ketiga lembaga tradisional itu untuk mengambil alih tanggungjawab mereka terhadap pendidikan anak dan tidak 'mempersembahkan' tanggungjawab itu melulu kepada media massa modern. Demikian Sri Paus menandaskan: 'Mendidik anak-anak agar mereka dapat memilih dengan baik pemanfaatan media adalah tanggung jawab orangtua, Gereja dan sekolah. Peranan orangtua adalah yang paling penting. Mereka mempunyai hak dan kewajiban untuk memastikan, bahwa anak-anak mereka memanfaatkan media dengan bijak, yakni dengan melatih hati nurani anak-anak agar dapat mengungkapkan secara sehat dan objektif penilaian mereka yang nantinya akan menuntun mereka untuk memilih atau menolak acara-acara yang tersedia.' (Pesan Paus Benendiktus XVI, pada Hari Komunikasi Sedunia ke-41)
Peran media sebagai penanggungjawab perkembangan hidup anak
Pengalaman sejarah membuktikan bahwa salah satu tantangan terbesar bagi media komunikasi untuk mengembangkan jurnalisme berkualitas selalu terhambat dengan idiologi kapitalis yang berada di belakangnya. Kalau mau berkualitas, diperlukan biaya produksi yang mahal. Untuk bisa mendanai mahalnya suatu industri media, peranan para kapitalis (pemilik modal) menjadi sangat penting. Idiologi kapitalis akan turut dimasukkan seiring dengan jumlah sumbangan modal yang diberikan. Kualitas berita dan pesan media perlahan-lahan mulai ditunggangi oleh idiologi-idiologi yang mendanai terciptakan program program itu. Bila media massa mulai masuk dalam industri, dan nilai ekonomi mulai menjadi wacana tandingan maka, nilai-nilai etika menjadi goncang. Idealisme tentang independensi media komunikasi hanyalah ilusi. Lihat saja, berapa banyak televisi yang bernuansa pendidikan murni yang masih bertahan. Bahkan televisi-televisi komersialah yang kini menjadi pendidik alternatif bagi anak-anak jaman sekarang ketimbang televisi pendidikan. Paus Benediktus XVI menyadari persoalan ini ketika menandaskan bahwa 'Sambil menegaskan keyakinan, bahwa banyak orang yang terlibat dalam komunikasi sosial berkemauan untuk melakukan apa yang benar (lih. Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial, Ethics in Communications, 4), kami harus juga mengakui, bahwa mereka yang bekerja di bidang ini berhadapan dengan "tekanan psikologis khusus dan dilema-dilema etik" (Aetatis Novae, 19), karena adakalanya mereka harus menyaksikan bahwa persaingan komersial telah memaksa para komunikator untuk menurunkan standar mutunya.' (Pesan Paus Benediktus XVI pada Hari Komunikasi Sedunia, 2007)
Bagaimana dengan Komunikasi Gereja?
Media teknologi modern memiliki stuktur, cara operasional, logikanya sendiri. Sebagai media massa, struktur dan operasionalnya telah ditata sedemikian rupa sehingga ia bersifat tunggal arah dan berdampak massal. Dalam model komunikasi yang demikian, titik perhatian komunikasi terarah kepada pengirim pesan, perancang media ( media maker) dan media yang dipakai untuk menyalurkan pesan-pesan itu. Riset khalayak hampir tidak pernah diperhitungkan atau kalau diperhatikan toh melulu sebagai pangsa pasar (sejauh mereka bernilai dalam mengkonsumsi produk media massa). Dengan demikian, apa yang menjadi kebutuhan khalayak bukanlah menjadi variabel. Dengan cara demikian, media massa memiliki potensi dalam proses peminggiran (marjinalisasi) khalayak teristimewa kaum miskin. Untuk itu, pada hemat saya, dua unsur berikut ini perlu mendapat perhatian secara khusus dalam komunikasi gereja dewasa ini.
Pertama, memanfaatkan daya media massa modern yang ada seperti radio, televisi, multimedia, internet. Karena sebagai piranti, media-media itu telah memiliki hubungan psikologis yang sangat erat dengan khlayak berbagai usia dan jenis kelamin. Karena itu tidak ada alasan untuk menolak menggunakannya. Yang perlu diperhatikan gereja dan para pelaku media adalah memasukan nilai-nilai manusiawi dan kristiani sesuai dengan struktur dan logika, seturut kekhasan kemasan media massa, sesuai dengan 'ekosistem' media massa. Karena seringkali terjadi bahwa pesan-pesan gereja tidak dikemas secara baik, ada kesan tergesa-gesa, improvisasi dan linear, berat pesannya, segala-galanya mau dimasukkan sekaligus dan berdurasinya panjang, dijejali dengan berbagai norma dan doktrin dalam bentuk rumusan (statement) dan bukan dalam bentuk nilai (value) dengan akibat khalayak menjadi jenuh dan bosan.
Kedua, Memberdayakan media alternatif yang lasim dikenal sebagai media komunitas seperti teater rakyat, wayang, drama, poster, selebaran, forum diskusi, dan folkmedia dalam bentuk sastra rakyat seperti pantun, teka-teki, syair, tarian, nyanyian dll. Media komunikasi komunitas ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya-budaya bangsa kita. Umumnya media-media itu memiliki hubungan yang sangat erat dengan pesan-pesan moral, tentang yang baik dan yang jahat. Tidak mahal, dapat dijangkau, bersifat kolektif sehingga pesan-pesanpun dapat dirancangkan dan didiskusikan bersama. Malah orang-orang sekomunitaslah yang akan menjadi lakon dalam media-media itu. Banyak pakar komunikasi mengatakan bahwa inilah model komunikasi yang ideal karena komunitas bersama-sama mendiskusikan persoalan hidup mereka lalu mencari cara untuk mengungkapkannya kepada publik tentang nilai-nilai yang mereka anut. Disini, justru riset khalayaklah yang menjadi variabel suatu proses komunikasi. Bahwa orang akan melihat dinamika hidup masyarakat tertentu lalu mencari media yang sesuai dengan bentukan masyarakat yang ada. Dan bukan sebaliknya, memilih media terlebih dahulu dan kemudian memformat masyarakat untuk diselaraskan dengan logika media.
Penulis adalah Koordinator Komunikasi Provinsi SVD Ende, Flores
http://mirifica. net/wmview. php?ArtID= 3937
salam dan doa,
Yohanes Samiran SCJ
------------ --------- --------- --------- --------- ---
*** Semoga Hati Yesus merajai hati kita ***
------------ --------- --------- --------- --------- ---
Showing posts with label Pope. Show all posts
Showing posts with label Pope. Show all posts
Tuesday, May 8, 2007
Pesan Bapa Suci Untuk Hari Komunikasi Sedunia ke 41 (20-05-2007)
Pesan Bapa Suci Untuk Hari Komunikasi Sedunia ke 41
Anak-anak dan Media: Sebuah Tantangan untuk Pendidikan
PESAN BAPA SUCI BENEDICTUS XVI
UNTUK HARI KOMUNIKASI SEDUNIA KE-41
Thema:
Anak-anak dan Media:
Sebuah Tantangan untuk Pendidikan
20 Mei 2007
Saudara dan Saudari yang terkasih,
1. Tema Hari Komunikasi Sedunia yang ke-41, "Anak-anak dan Media: Sebuah Tantangan untuk Pendidikan", mengajak kita untuk ber-refleksi atas dua pokok yang sangat penting yang berkaitan satu sama lain. Yang pertama adalah pembinaan anak-anak. Yang kedua, barangkali kurang nyata, namun tidak kalah pentingnya, adalah pembinaan media.
Aneka-ragam tantangan dalam menghadapi pendidikan dewasa ini sering dikaitkan dengan pengaruh media yang begitu menyeluruh di dunia kita ini. Sebagai suatu aspek dari gejala globalisasi, dan masih dipicu lagi dengan cepatnya perkembangan teknologi, media memang telah membentuk lingkungan budaya dengan sangat mendalam (bdk Paus Johanes Paulus II, Surat Apostolik Rapid Development, 3). Memang, sementara orang menegaskan, bahwa pengaruh formatif media ini telah menjadi saingan pengaruh sekolah, Gereja dan barangkali juga keluarga. "Realitas, bagi banyak orang, adalah apa yang nyata dalam pandangan media" (Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial, Aetatis Novae, 4).
2. Hubungan antara anak-anak, media dan pendidikan dapat ditinjau dari dua sudut pandang: pembinaan anak-anak oleh media dan pembinaan anak-anak untuk dapat memberikan tanggapan yang sebaik-baiknya kepada media. Maka muncullah semacam ketimbalbalikan yang menunjuk kepada pertanggungjawaban dari media sebagai sebuah industri dan kepada kebutuhan untuk mengambil bagian secara aktif dan kritis dari pihak pembaca, pemirsa dan pendengar. Dalam kerangka ini, pelatihan untuk memanfaatkan media dengan sebaik-baiknya menjadi esensial bagi perkembangan anak-anak secara kultural, moral dan spiritual.
Bagaimanakah harus dilindungi dan dimajukan kebaikan-bersama ini? Mendidik anak-anak agar mereka dapat memilih dengan baik pemanfaatan media adalah tanggung jawab orangtua, Gereja dan sekolah. Peranan orangtua adalah yang paling penting. Mereka mempunyai hak dan kewajiban untuk memastikan, bahwa anak-anak mereka memanfaatkan media dengan bijak, yakni dengan melatih hati nurani anak-anak agar dapat mengungkapkan secara sehat dan objektif penilaian mereka yang nantinya akan menuntun mereka untuk memilih atau menolak acara-acara yang tersedia (lih. Paus Johanes Paulus II, Ekshortasi Apostolik Familiaris Consortio, 76). Dalam bertindak demikian, para orangtua seharusnya disemangati dan dibantu oleh sekolah dan paroki. Dengan demikian dipastikan, bahwa aspek peranan orangtua yang sukar tetapi sungguh memuaskan ini memang didukung oleh masyarakat yang lebih luas.
Media pendidikan seharusnya bersifat positif. Anak-anak yang diperhadapkan pada apa yang indah dan yang secara moral istimewa akan dibantu untuk mengembangkan apresiasi, kebijakan dan ketrampilan membuat pilihan untuk menentukan sikap. Disini pentinglah pengakuan akan nilai fundamental keteladanan orangtua dan pengakuan akan manfaat memperkenalkan kepada kaum muda pendidikan klasik bagi anak-anak di bidang kesusasteraan, kesenian dan musik yang sungguh mengangkat hati. Memang sastra populer akan senantiasa mendapatkan tempatnya dalam kebudayaan, namun godaan untuk menjadikannya hanya sebagai suatu sensasi, tidaklah boleh diterima, meskipun hanya secara pasif, terutama ditempat-tempat pembinaan. Keindahan, yang merupakan semacam cerminan keilahian, memberi inspirasi dan menghidupkan hati dan budi kaum muda, sedangkan yang buruk dan yang kasar memberi dampak depresi bagi sikap dan perilaku.
Pendidikan media, sebagaimana halnya dengan pendidikan pada umumnya, menuntut pembentukan dalam melaksanakan kebebasan. Inilah tugas yang mendesak. Begitu sering kebebasan ditampilkan sebagai upaya yang tak kunjung henti untuk mencari kesenangan atau mencari pengalaman-pengalam an baru. Kalau demikian, ini penghukuman bukannya pembebasan! Kebebasan sejati tidak pernah menghukum seseorang-khususnya seorang anak-untuk terus tak puasnya mengejar akan hal-hal yang baru. Dalam terang kebenaran, kebebasan yang otentik dialami sebagai jawaban definitif terhadap "ya" Allah kepada manusia, yang memanggil kita untuk memilih, bukan secara sembarangan, tetapi secara tahu dan mau, apa saja yang baik, benar dan indah. Oleh karena itu, orangtua, sebagai garda depan kebebasan itu, sambil secara bertahap memberikan kepada anak-anak kebebasan yang semakin besar, membawanya sampai kepada sukacita mendalam dari kehidupan itu (lih. Sambutan pada Pertemuan Internasional Keluarga, Valencia, 8 Juli 2006).
3. Kerinduan mendalam para orangtua dan guru untuk mendidik anak-anak di jalan keindahan, kebenaran dan kebaikan, dapat didukung oleh industri media sampai pada taraf manakala ia mendukung martabat manusia yang fundamental, mendukung makna sejati nilai perkawinan dan hidup keluarga, dan mendukung secara positif pencapaian tujuan hidup manusia. Maka, kebutuhan bagi media yang memiliki komitmen bagi pembinaan yang efektif dan komitmen bagi nilai etis yang standard, dilihat dengan perhatian khusus dan bahkan dengan sangat mendesak, bukan saja oleh para orangtua dan guru, tetapi juga oleh semua yang memiliki rasa tanggungjawab kemasyarakatan.
Sambil menegaskan keyakinan, bahwa banyak orang yang terlibat dalam komunikasi sosial berkemauan untuk melakukan apa yang benar (lih. Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial, Ethics in Communications, 4), kami harus juga mengakui, bahwa mereka yang bekerja di bidang ini berhadapan dengan "tekanan psikologis khusus dan dilema-dilema etik" (Aetatis Novae, 19), karena adakalanya mereka harus menyaksikan bahwa persaingan komersial telah memaksa para komunikator untuk menurunkan standard mutunya. Segala macam kecenderungan untuk menghasilkan program dan produksi, -termasuk film animasi dan video games,- yang dengan mengatasnamakan entertainment mengagungkan kekerasan dan memberikan potret tingkah laku yang anti-sosial atau yang merendahkan seksualitas manusia, adalah suatu kebejatan, dan hal itu harus semakin ditolak lagi, apabila program itu ditujukan bagi anak-anak dan remaja. Bagaimana dapat menjelaskan bahwa tayangan itu adalah suatu "hiburan" kepada begitu banyak kaum muda yang pada kenyataannya sedang mengalami sendiri penderitaan karena kekerasan, eksplotasi dan pelecehan?
Dalam kaitan ini, hendaknya semua pihak berusaha sungguh-sungguh untuk merenungkan betapa kontrasnya pertentangan antara Kristus yang "memeluk dan meletakkan tangan atas anak-anak itu dan memberkati mereka" (lih Mrk 10:16) dan dia "yang menyesatkan anak-anak ini ... yang lebih baik digantungi batu pada lehernya ..." (lih. Luk 17:2). Sekali lagi saya menghimbau para pemimpin industri media untuk mendidik dan mendorong para produsen untuk menjaga kebaikan-bersama, untuk menjunjung tinggi kebenaran, untuk melindungi martabat manusia secara pribadi dan untuk memajukan penghargaan terhadap kebutuhan-kebutuhan keluarga.
4. Gereja sendiri, dalam terang warta keselamatan yang dipercayakan kepadanya, adalah juga guru umat manusia dan Gereja senantiasa menyambut baik kesempatan untuk dapat memberikan bantuan kepada para orangtua, para pendidik, para komunikator dan juga kaum muda itu sendiri. Program-program paroki dan sekolah-sekolah Gereja dewasa ini haruslah menjadi yang terdepan di bidang pendidikan media. Dan di atas semuanya itu Gereja rindu untuk dapat membagikan visinya terhadap penghargaan martabat manusia, yang adalah juga pusat dari semula komunikasi antar manusia yang mulia.
"Sambil melihat dengan mata Kristus, Saya dapat memberikan kepada orang lain, jauh lebih banyak daripada apa yang menjadi kebutuhan lahiriah mereka; Saya dapat menunjukkan kepada mereka cintakasih yang sangat mereka dambakan itu" (Deus Caritas Est, 18).
Dikeluarkan di Vatikan, pada tanggal 24 Januari 2006, pada Pesta St Fransiskus dari Sales.
BENEDICTUS XVI
bahan liturgi misa:
DEWAN KEPAUSAN UNTUK KOMUNIKASI SOSIAL
Hari Komunikasi Sedunia
Tema:
"Anak-anak dan Media: sebuah Tantangan untuk Pendidikan"
20 Mei 2007
KOMENTAR / RENUNGAN
"Pendidikan media, sebagaimana halnya dengan pendidikan pada umumnya, menuntut pembentukan dalam melaksanakan kebebasan. Inilah tugas yang mendesak .... Kebebasan sejati tidak pernah menghukum seseorang-khususnya seorang anak-untuk terus tak puasnya mengejar akan hal-hal yang baru. Dalam terang kebenaran, kebebasan yang otentik dialami sebagai jawaban definitif terhadap "ya" Allah kepada manusia, yang memanggil kita untuk memilih, bukan secara sembarangan, tetapi secara tahu dan mau, apa saja yang baik, benar dan indah. Oleh karena itu, orangtua, sebagai garda depan kebebasan itu, sambil secara bertahap memberikan kepada anak-anak kebebasan yang semakin besar, membawanya sampai kepada sukacita mendalam dari kehidupan itu".
Dalam pesannya itu Paus Benedictus XVI memusatkan perhatiannya pada pendidikan pada umumnya dan pada masalah bagaimana pembinaan yang sesungguhnya dapat membantu anak-anak untuk belajar hidup dengan sungguh-sungguh bebas. Santo Bapa memperhatikan, bagaimana pengetahuan tentang bagaimana mereka menghayati kebebasan itu dalam konteks masyarakat di mana mereka sendiri berada, dapat membantu mereka untuk memperkembangkan kebahagiaan yang mendalam dalam hidup mereka. Cita-cita ideal ini merupakan tantangan yang besar, tetapi serentak juga memberikan pemahaman pada pengaruh yang sangat hebat dari pesan-pesan media komunikasi. Karena alasan itulah Santo Bapa menghimbau para anggota Gereja, keluarga-keluarga dan sekolah-sekolah, untuk memberikan pendidikan yang sungguh-sungguh efektif dalam penggunaan media komunikasi.
Pentinglah memperhatikan, bagaimana Paus Benedictus XVI mengajak kita semua untuk berani memasuki dunia komunikasi dan memilih dengan bijak mana yang terbaik bagi kita dan bagi penerus-penerus kita kelak. Santo Bapa sama sekali tidak mengajak kita untuk melarikan diri dari kenyataan media komunikasi. Kita semua ada di dalamnya.
Bapa Suci mengingatkan kita, bahwa anak-anak memerlukan pendampingan sebanyak mungkin ketika mereka berhadapan dengan media, karena di sana ada risiko, bahwa kadang-kadang mereka mengalami kebingungan antara mana yang memang kenyataan dan mana yang hanya fiksi. Idealnya adalah: para orangtua, para pendidik dan komunitas-komunitas paroki sungguh paham akan bahasa dan teknik-teknik yang dipergunakan oleh media, agar dengan demikian mereka sungguh-sungguh dapat selektif terhadap tawaran media ini, lalu dengan demikian mereka dapat membantu anak-anak untuk mempertimbangkannya , lalu bisa memilih sendiri dengan baik. Kriteria umum yang didasarkan pada prinsip-prinsip keindahan, kebaikan dan kebenaran akan dapat memberikan tuntunan arahan dalam memilih program, isi atau bahkan videogames.
Salah satu tujuan utamanya adalah juga untuk menghindarkan kesempatan-kesempat an, di mana anak-anak dapat terbawa ke hal-hal atau situasi-situasi yang bisa memiskinkan atau bahkan memperdaya anak-anak dengan kedok kebebasan, atau anak-anak terbawa ke keinginan yang tak habis-habisnya untuk mencari hal-hal baru, yang tokh, lama-kelamaan, akan ternyata tidak bisa memuaskan mereka atau tidak memberikan kebahagiaan yang sejati. Yang paling ideal adalah bahwa anak-anak sendiri dimampukan untuk belajar bagaimana mereka dapat memilih sendiri yang paling baik bagi mereka, yang dapat membantu mereka untuk bertumbuh dalam kegembiraan dan kebahagiaan: "Keindahan, yang merupakan semacam cerminan keilahian, memberi inspirasi dan menghidupkan hati dan budi kaum muda, sedangkan yang buruk dan yang kasar memberi dampak depresi bagi sikap dan perilaku.". Keindahan, "cerminan keilahian" ini, dapat membantu dan memberi inspirasi dalam penggunaan kebebasan secara bertanggung- jawab.
Pesan Paus itu juga terdiri dari himbauan kepada para pemimpin industri media untuk menunjukkan penghargaan kepada martabat manusia. Dengan menyadari akan sering terjadinya tekanan komersial yang hebat terhadap mereka yang bekerja di bidang ini, namun Pesan ini tetap menghimbau para produser: "untuk menjaga kebaikan bersama, untuk menjunjung tinggi kebenaran, untuk melindungi martabat manusia secara pribadi dan untuk memajukan penghargaan terhadap kebutuhan-kebutuhan keluarga".
BACAAN-BACAAN
BACAAN PERTAMA
Kis 1:1-11 "Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku".
Ef 1:7-23 "Semoga Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu me-ngerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilanNya" .
Kbj 9:1-9 "Sungguh, andaikata seseorang adalah sempurna diantara anak-anak manusia, tapi kebijaksanaan yang berasal dari padaMu tidak ada, niscaya ia tidak terbilang apa-apa".
MAZMUR TANGGAPAN
Mzm 46 "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti".
Mzm 23 "TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku".
Mzm 75 "Kami bersyukur kepada-Mu, ya Allah, kami bersyukur, dan orang-orang yang menyerukan nama-Mu menceritakan perbuatan-perbuatan -Mu yang ajaib".
BACAAN KEDUA
Ibr 9:24-28 "Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya".
Ibr 10:19-23 "Marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni".
2Kor 7:1-4 "Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah".
BACAAN INJIL
Luk 24:46-53 "Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku"
Luk 17:1-4 "Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia".
Mrk 10:13-16 "Biarkan anak-anak itu datang kepadaKu, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah".
DOA UMAT
Imam : Allah yang mahabelas-kasih. Kami berdoa kepadaMu dan mohon, agar kami dapat senantiasa setia kepada PutraMu, Sang Cahaya dunia dan Pangeran Perdamaian. Semoga Engkau juga berkenan penuntun kami dalam upaya kami untuk melindungi anak-anak dan keluarga-keluarga kami.
Marilah kita berdoa:
Tuhan, ajarilah kami menjadi saksi-saksi- Mu.
Pembaca : Marilah kita berdoa untuk Santo Bapa kita, Paus Benediktus XVI, agar supaya ia senantiasa mendapat kekuatan dari Allah dalam karyanya untuk mengkomunikasikan cintakasih Allah yang telah dinyatakan dalam Kristus, Tuhan, terutama dalam pelayanan bagi mereka yang miskin dan paling menderita,
Marilah kita berdoa:
Umat : Tuhan, ajarilah kami menjadi saksi-saksi- Mu.
Pembaca : Untuk para Uskup, para Imam dan para Diakon, semoga pelayanan mereka bagi reksa pastoral Umat sungguh-sungguh mencerminkan pewartaan yang menyelamatkan dari Tuhan Yesus, yang mengasihi anak-anak dengan kasih yang sederhana dan rendah hati,
Marilah kita berdoa:
Umat : Tuhan, ajarilah kami menjadi saksi-saksi- Mu.
Pembaca : Untuk semua komunitas-komunitas kita, agar kita yang menjadi warganya dapat melayani orang lain, dan dalam media komunikasi sosial, dapat menemukan sarana yang ampuh untuk evangeliasasi, kesaksian dan kemajuan rohani.
Marilah kita berdoa:
Umat : Tuhan, ajarilah kami menjadi saksi-saksi- Mu.
Pembaca : Untuk mereka yang memegang tampuk pimpinan pemerintahan sipil, agar mereka dapat melaksanakan tugas mereka menjaga terjaminnya penggunaan sarana-sarana komunikasi sosial secara bertanggungjawab, terutama yang menyangkut kepentingan dan penghargaan terhadap anak-anak.
Marilah kita berdoa:
Umat : Tuhan, ajarilah kami menjadi saksi-saksi- Mu.
Pembaca : Untuk para Orangtua dan para Guru, agar supaya mereka, baik di rumah maupun di sekolah, mampu meneruskan dan menanamkan di dalam diri anak-anak penghargaan yang mendalam terhadap kehidupan.
Marilah kita berdoa:
Umat : Tuhan, ajarilah kami menjadi saksi-saksi- Mu.
Pembaca : Untuk anak-anak, teristimewa mereka yang menderita pelecehan dan tidak mendapat perhatian, semoga mereka dapat menemukan orang-orang yang dapat memberikan kehangatan, penghargaan dan kekeluargaan,
Marilah kita berdoa:
Umat : Tuhan, ajarilah kami menjadi saksi-saksiMu.
Pembaca : Bagi para pemegang pimpinan sarana komunikasi sosial, semoga Roh Kudus menganugerahkan kepada mereka pencerahanNya yang menguduskan, kebijaksanaan yang membangun, dan terutama kerinduan untuk memperjuangkan martabat manusia yang luhur,
Marilah kita berdoa:
Umat : Tuhan, ajarilah kami menjadi saksi-saksiMu.
Imam : Allah, Bapa yang Mahabaik, terimalah dengan rela doa-doa yang kami unjukkan kepadaMu, sehingga, melalui pengantaraan Santa Perawan Maria, Bunda Allah dan Bunda kami, kami dapat belajar untuk menjadi saksi-saksiMu, dengan memanfaatkan sarana-sarana yang Kau anugerahkan kepada kami melalui ciptaan-Mu. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.
Umat : Amin.
=========
http://mirifica. net/wmview. php?ArtID= 3863
salam dan doa,
Yohanes Samiran SCJ
------------ --------- --------- --------- --------- ---
*** Semoga Hati Yesus merajai hati kita ***
Anak-anak dan Media: Sebuah Tantangan untuk Pendidikan
PESAN BAPA SUCI BENEDICTUS XVI
UNTUK HARI KOMUNIKASI SEDUNIA KE-41
Thema:
Anak-anak dan Media:
Sebuah Tantangan untuk Pendidikan
20 Mei 2007
Saudara dan Saudari yang terkasih,
1. Tema Hari Komunikasi Sedunia yang ke-41, "Anak-anak dan Media: Sebuah Tantangan untuk Pendidikan", mengajak kita untuk ber-refleksi atas dua pokok yang sangat penting yang berkaitan satu sama lain. Yang pertama adalah pembinaan anak-anak. Yang kedua, barangkali kurang nyata, namun tidak kalah pentingnya, adalah pembinaan media.
Aneka-ragam tantangan dalam menghadapi pendidikan dewasa ini sering dikaitkan dengan pengaruh media yang begitu menyeluruh di dunia kita ini. Sebagai suatu aspek dari gejala globalisasi, dan masih dipicu lagi dengan cepatnya perkembangan teknologi, media memang telah membentuk lingkungan budaya dengan sangat mendalam (bdk Paus Johanes Paulus II, Surat Apostolik Rapid Development, 3). Memang, sementara orang menegaskan, bahwa pengaruh formatif media ini telah menjadi saingan pengaruh sekolah, Gereja dan barangkali juga keluarga. "Realitas, bagi banyak orang, adalah apa yang nyata dalam pandangan media" (Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial, Aetatis Novae, 4).
2. Hubungan antara anak-anak, media dan pendidikan dapat ditinjau dari dua sudut pandang: pembinaan anak-anak oleh media dan pembinaan anak-anak untuk dapat memberikan tanggapan yang sebaik-baiknya kepada media. Maka muncullah semacam ketimbalbalikan yang menunjuk kepada pertanggungjawaban dari media sebagai sebuah industri dan kepada kebutuhan untuk mengambil bagian secara aktif dan kritis dari pihak pembaca, pemirsa dan pendengar. Dalam kerangka ini, pelatihan untuk memanfaatkan media dengan sebaik-baiknya menjadi esensial bagi perkembangan anak-anak secara kultural, moral dan spiritual.
Bagaimanakah harus dilindungi dan dimajukan kebaikan-bersama ini? Mendidik anak-anak agar mereka dapat memilih dengan baik pemanfaatan media adalah tanggung jawab orangtua, Gereja dan sekolah. Peranan orangtua adalah yang paling penting. Mereka mempunyai hak dan kewajiban untuk memastikan, bahwa anak-anak mereka memanfaatkan media dengan bijak, yakni dengan melatih hati nurani anak-anak agar dapat mengungkapkan secara sehat dan objektif penilaian mereka yang nantinya akan menuntun mereka untuk memilih atau menolak acara-acara yang tersedia (lih. Paus Johanes Paulus II, Ekshortasi Apostolik Familiaris Consortio, 76). Dalam bertindak demikian, para orangtua seharusnya disemangati dan dibantu oleh sekolah dan paroki. Dengan demikian dipastikan, bahwa aspek peranan orangtua yang sukar tetapi sungguh memuaskan ini memang didukung oleh masyarakat yang lebih luas.
Media pendidikan seharusnya bersifat positif. Anak-anak yang diperhadapkan pada apa yang indah dan yang secara moral istimewa akan dibantu untuk mengembangkan apresiasi, kebijakan dan ketrampilan membuat pilihan untuk menentukan sikap. Disini pentinglah pengakuan akan nilai fundamental keteladanan orangtua dan pengakuan akan manfaat memperkenalkan kepada kaum muda pendidikan klasik bagi anak-anak di bidang kesusasteraan, kesenian dan musik yang sungguh mengangkat hati. Memang sastra populer akan senantiasa mendapatkan tempatnya dalam kebudayaan, namun godaan untuk menjadikannya hanya sebagai suatu sensasi, tidaklah boleh diterima, meskipun hanya secara pasif, terutama ditempat-tempat pembinaan. Keindahan, yang merupakan semacam cerminan keilahian, memberi inspirasi dan menghidupkan hati dan budi kaum muda, sedangkan yang buruk dan yang kasar memberi dampak depresi bagi sikap dan perilaku.
Pendidikan media, sebagaimana halnya dengan pendidikan pada umumnya, menuntut pembentukan dalam melaksanakan kebebasan. Inilah tugas yang mendesak. Begitu sering kebebasan ditampilkan sebagai upaya yang tak kunjung henti untuk mencari kesenangan atau mencari pengalaman-pengalam an baru. Kalau demikian, ini penghukuman bukannya pembebasan! Kebebasan sejati tidak pernah menghukum seseorang-khususnya seorang anak-untuk terus tak puasnya mengejar akan hal-hal yang baru. Dalam terang kebenaran, kebebasan yang otentik dialami sebagai jawaban definitif terhadap "ya" Allah kepada manusia, yang memanggil kita untuk memilih, bukan secara sembarangan, tetapi secara tahu dan mau, apa saja yang baik, benar dan indah. Oleh karena itu, orangtua, sebagai garda depan kebebasan itu, sambil secara bertahap memberikan kepada anak-anak kebebasan yang semakin besar, membawanya sampai kepada sukacita mendalam dari kehidupan itu (lih. Sambutan pada Pertemuan Internasional Keluarga, Valencia, 8 Juli 2006).
3. Kerinduan mendalam para orangtua dan guru untuk mendidik anak-anak di jalan keindahan, kebenaran dan kebaikan, dapat didukung oleh industri media sampai pada taraf manakala ia mendukung martabat manusia yang fundamental, mendukung makna sejati nilai perkawinan dan hidup keluarga, dan mendukung secara positif pencapaian tujuan hidup manusia. Maka, kebutuhan bagi media yang memiliki komitmen bagi pembinaan yang efektif dan komitmen bagi nilai etis yang standard, dilihat dengan perhatian khusus dan bahkan dengan sangat mendesak, bukan saja oleh para orangtua dan guru, tetapi juga oleh semua yang memiliki rasa tanggungjawab kemasyarakatan.
Sambil menegaskan keyakinan, bahwa banyak orang yang terlibat dalam komunikasi sosial berkemauan untuk melakukan apa yang benar (lih. Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial, Ethics in Communications, 4), kami harus juga mengakui, bahwa mereka yang bekerja di bidang ini berhadapan dengan "tekanan psikologis khusus dan dilema-dilema etik" (Aetatis Novae, 19), karena adakalanya mereka harus menyaksikan bahwa persaingan komersial telah memaksa para komunikator untuk menurunkan standard mutunya. Segala macam kecenderungan untuk menghasilkan program dan produksi, -termasuk film animasi dan video games,- yang dengan mengatasnamakan entertainment mengagungkan kekerasan dan memberikan potret tingkah laku yang anti-sosial atau yang merendahkan seksualitas manusia, adalah suatu kebejatan, dan hal itu harus semakin ditolak lagi, apabila program itu ditujukan bagi anak-anak dan remaja. Bagaimana dapat menjelaskan bahwa tayangan itu adalah suatu "hiburan" kepada begitu banyak kaum muda yang pada kenyataannya sedang mengalami sendiri penderitaan karena kekerasan, eksplotasi dan pelecehan?
Dalam kaitan ini, hendaknya semua pihak berusaha sungguh-sungguh untuk merenungkan betapa kontrasnya pertentangan antara Kristus yang "memeluk dan meletakkan tangan atas anak-anak itu dan memberkati mereka" (lih Mrk 10:16) dan dia "yang menyesatkan anak-anak ini ... yang lebih baik digantungi batu pada lehernya ..." (lih. Luk 17:2). Sekali lagi saya menghimbau para pemimpin industri media untuk mendidik dan mendorong para produsen untuk menjaga kebaikan-bersama, untuk menjunjung tinggi kebenaran, untuk melindungi martabat manusia secara pribadi dan untuk memajukan penghargaan terhadap kebutuhan-kebutuhan keluarga.
4. Gereja sendiri, dalam terang warta keselamatan yang dipercayakan kepadanya, adalah juga guru umat manusia dan Gereja senantiasa menyambut baik kesempatan untuk dapat memberikan bantuan kepada para orangtua, para pendidik, para komunikator dan juga kaum muda itu sendiri. Program-program paroki dan sekolah-sekolah Gereja dewasa ini haruslah menjadi yang terdepan di bidang pendidikan media. Dan di atas semuanya itu Gereja rindu untuk dapat membagikan visinya terhadap penghargaan martabat manusia, yang adalah juga pusat dari semula komunikasi antar manusia yang mulia.
"Sambil melihat dengan mata Kristus, Saya dapat memberikan kepada orang lain, jauh lebih banyak daripada apa yang menjadi kebutuhan lahiriah mereka; Saya dapat menunjukkan kepada mereka cintakasih yang sangat mereka dambakan itu" (Deus Caritas Est, 18).
Dikeluarkan di Vatikan, pada tanggal 24 Januari 2006, pada Pesta St Fransiskus dari Sales.
BENEDICTUS XVI
bahan liturgi misa:
DEWAN KEPAUSAN UNTUK KOMUNIKASI SOSIAL
Hari Komunikasi Sedunia
Tema:
"Anak-anak dan Media: sebuah Tantangan untuk Pendidikan"
20 Mei 2007
KOMENTAR / RENUNGAN
"Pendidikan media, sebagaimana halnya dengan pendidikan pada umumnya, menuntut pembentukan dalam melaksanakan kebebasan. Inilah tugas yang mendesak .... Kebebasan sejati tidak pernah menghukum seseorang-khususnya seorang anak-untuk terus tak puasnya mengejar akan hal-hal yang baru. Dalam terang kebenaran, kebebasan yang otentik dialami sebagai jawaban definitif terhadap "ya" Allah kepada manusia, yang memanggil kita untuk memilih, bukan secara sembarangan, tetapi secara tahu dan mau, apa saja yang baik, benar dan indah. Oleh karena itu, orangtua, sebagai garda depan kebebasan itu, sambil secara bertahap memberikan kepada anak-anak kebebasan yang semakin besar, membawanya sampai kepada sukacita mendalam dari kehidupan itu".
Dalam pesannya itu Paus Benedictus XVI memusatkan perhatiannya pada pendidikan pada umumnya dan pada masalah bagaimana pembinaan yang sesungguhnya dapat membantu anak-anak untuk belajar hidup dengan sungguh-sungguh bebas. Santo Bapa memperhatikan, bagaimana pengetahuan tentang bagaimana mereka menghayati kebebasan itu dalam konteks masyarakat di mana mereka sendiri berada, dapat membantu mereka untuk memperkembangkan kebahagiaan yang mendalam dalam hidup mereka. Cita-cita ideal ini merupakan tantangan yang besar, tetapi serentak juga memberikan pemahaman pada pengaruh yang sangat hebat dari pesan-pesan media komunikasi. Karena alasan itulah Santo Bapa menghimbau para anggota Gereja, keluarga-keluarga dan sekolah-sekolah, untuk memberikan pendidikan yang sungguh-sungguh efektif dalam penggunaan media komunikasi.
Pentinglah memperhatikan, bagaimana Paus Benedictus XVI mengajak kita semua untuk berani memasuki dunia komunikasi dan memilih dengan bijak mana yang terbaik bagi kita dan bagi penerus-penerus kita kelak. Santo Bapa sama sekali tidak mengajak kita untuk melarikan diri dari kenyataan media komunikasi. Kita semua ada di dalamnya.
Bapa Suci mengingatkan kita, bahwa anak-anak memerlukan pendampingan sebanyak mungkin ketika mereka berhadapan dengan media, karena di sana ada risiko, bahwa kadang-kadang mereka mengalami kebingungan antara mana yang memang kenyataan dan mana yang hanya fiksi. Idealnya adalah: para orangtua, para pendidik dan komunitas-komunitas paroki sungguh paham akan bahasa dan teknik-teknik yang dipergunakan oleh media, agar dengan demikian mereka sungguh-sungguh dapat selektif terhadap tawaran media ini, lalu dengan demikian mereka dapat membantu anak-anak untuk mempertimbangkannya , lalu bisa memilih sendiri dengan baik. Kriteria umum yang didasarkan pada prinsip-prinsip keindahan, kebaikan dan kebenaran akan dapat memberikan tuntunan arahan dalam memilih program, isi atau bahkan videogames.
Salah satu tujuan utamanya adalah juga untuk menghindarkan kesempatan-kesempat an, di mana anak-anak dapat terbawa ke hal-hal atau situasi-situasi yang bisa memiskinkan atau bahkan memperdaya anak-anak dengan kedok kebebasan, atau anak-anak terbawa ke keinginan yang tak habis-habisnya untuk mencari hal-hal baru, yang tokh, lama-kelamaan, akan ternyata tidak bisa memuaskan mereka atau tidak memberikan kebahagiaan yang sejati. Yang paling ideal adalah bahwa anak-anak sendiri dimampukan untuk belajar bagaimana mereka dapat memilih sendiri yang paling baik bagi mereka, yang dapat membantu mereka untuk bertumbuh dalam kegembiraan dan kebahagiaan: "Keindahan, yang merupakan semacam cerminan keilahian, memberi inspirasi dan menghidupkan hati dan budi kaum muda, sedangkan yang buruk dan yang kasar memberi dampak depresi bagi sikap dan perilaku.". Keindahan, "cerminan keilahian" ini, dapat membantu dan memberi inspirasi dalam penggunaan kebebasan secara bertanggung- jawab.
Pesan Paus itu juga terdiri dari himbauan kepada para pemimpin industri media untuk menunjukkan penghargaan kepada martabat manusia. Dengan menyadari akan sering terjadinya tekanan komersial yang hebat terhadap mereka yang bekerja di bidang ini, namun Pesan ini tetap menghimbau para produser: "untuk menjaga kebaikan bersama, untuk menjunjung tinggi kebenaran, untuk melindungi martabat manusia secara pribadi dan untuk memajukan penghargaan terhadap kebutuhan-kebutuhan keluarga".
BACAAN-BACAAN
BACAAN PERTAMA
Kis 1:1-11 "Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku".
Ef 1:7-23 "Semoga Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu me-ngerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilanNya" .
Kbj 9:1-9 "Sungguh, andaikata seseorang adalah sempurna diantara anak-anak manusia, tapi kebijaksanaan yang berasal dari padaMu tidak ada, niscaya ia tidak terbilang apa-apa".
MAZMUR TANGGAPAN
Mzm 46 "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti".
Mzm 23 "TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku".
Mzm 75 "Kami bersyukur kepada-Mu, ya Allah, kami bersyukur, dan orang-orang yang menyerukan nama-Mu menceritakan perbuatan-perbuatan -Mu yang ajaib".
BACAAN KEDUA
Ibr 9:24-28 "Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya".
Ibr 10:19-23 "Marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni".
2Kor 7:1-4 "Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah".
BACAAN INJIL
Luk 24:46-53 "Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku"
Luk 17:1-4 "Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia".
Mrk 10:13-16 "Biarkan anak-anak itu datang kepadaKu, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah".
DOA UMAT
Imam : Allah yang mahabelas-kasih. Kami berdoa kepadaMu dan mohon, agar kami dapat senantiasa setia kepada PutraMu, Sang Cahaya dunia dan Pangeran Perdamaian. Semoga Engkau juga berkenan penuntun kami dalam upaya kami untuk melindungi anak-anak dan keluarga-keluarga kami.
Marilah kita berdoa:
Tuhan, ajarilah kami menjadi saksi-saksi- Mu.
Pembaca : Marilah kita berdoa untuk Santo Bapa kita, Paus Benediktus XVI, agar supaya ia senantiasa mendapat kekuatan dari Allah dalam karyanya untuk mengkomunikasikan cintakasih Allah yang telah dinyatakan dalam Kristus, Tuhan, terutama dalam pelayanan bagi mereka yang miskin dan paling menderita,
Marilah kita berdoa:
Umat : Tuhan, ajarilah kami menjadi saksi-saksi- Mu.
Pembaca : Untuk para Uskup, para Imam dan para Diakon, semoga pelayanan mereka bagi reksa pastoral Umat sungguh-sungguh mencerminkan pewartaan yang menyelamatkan dari Tuhan Yesus, yang mengasihi anak-anak dengan kasih yang sederhana dan rendah hati,
Marilah kita berdoa:
Umat : Tuhan, ajarilah kami menjadi saksi-saksi- Mu.
Pembaca : Untuk semua komunitas-komunitas kita, agar kita yang menjadi warganya dapat melayani orang lain, dan dalam media komunikasi sosial, dapat menemukan sarana yang ampuh untuk evangeliasasi, kesaksian dan kemajuan rohani.
Marilah kita berdoa:
Umat : Tuhan, ajarilah kami menjadi saksi-saksi- Mu.
Pembaca : Untuk mereka yang memegang tampuk pimpinan pemerintahan sipil, agar mereka dapat melaksanakan tugas mereka menjaga terjaminnya penggunaan sarana-sarana komunikasi sosial secara bertanggungjawab, terutama yang menyangkut kepentingan dan penghargaan terhadap anak-anak.
Marilah kita berdoa:
Umat : Tuhan, ajarilah kami menjadi saksi-saksi- Mu.
Pembaca : Untuk para Orangtua dan para Guru, agar supaya mereka, baik di rumah maupun di sekolah, mampu meneruskan dan menanamkan di dalam diri anak-anak penghargaan yang mendalam terhadap kehidupan.
Marilah kita berdoa:
Umat : Tuhan, ajarilah kami menjadi saksi-saksi- Mu.
Pembaca : Untuk anak-anak, teristimewa mereka yang menderita pelecehan dan tidak mendapat perhatian, semoga mereka dapat menemukan orang-orang yang dapat memberikan kehangatan, penghargaan dan kekeluargaan,
Marilah kita berdoa:
Umat : Tuhan, ajarilah kami menjadi saksi-saksiMu.
Pembaca : Bagi para pemegang pimpinan sarana komunikasi sosial, semoga Roh Kudus menganugerahkan kepada mereka pencerahanNya yang menguduskan, kebijaksanaan yang membangun, dan terutama kerinduan untuk memperjuangkan martabat manusia yang luhur,
Marilah kita berdoa:
Umat : Tuhan, ajarilah kami menjadi saksi-saksiMu.
Imam : Allah, Bapa yang Mahabaik, terimalah dengan rela doa-doa yang kami unjukkan kepadaMu, sehingga, melalui pengantaraan Santa Perawan Maria, Bunda Allah dan Bunda kami, kami dapat belajar untuk menjadi saksi-saksiMu, dengan memanfaatkan sarana-sarana yang Kau anugerahkan kepada kami melalui ciptaan-Mu. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.
Umat : Amin.
=========
http://mirifica. net/wmview. php?ArtID= 3863
salam dan doa,
Yohanes Samiran SCJ
------------ --------- --------- --------- --------- ---
*** Semoga Hati Yesus merajai hati kita ***
Sunday, April 8, 2007
Benedict XVI's Easter Message : "A Renewed Witness to the Resurrection of Christ"
Benedict XVI's Easter Message
"A Renewed Witness to the Resurrection of Christ"
VATICAN CITY, APRIL 8, 2007 - Here is a Vatican translation of Benedict
XVI's Easter message delivered today at midday before he imparted his
blessing "urbi et orbi" (to the city of Rome and the world).
* * *
Dear brothers and sisters throughout the world, Men and women of good will!
Christ is risen! Peace to you! Today we celebrate the great mystery, the
foundation of Christian faith and hope: Jesus of Nazareth, the Crucified
One, has risen from the dead on the third day according to the Scriptures.
We listen today with renewed emotion to the announcement proclaimed by the
angels on the dawn of the first day after the Sabbath, to Mary of Magdala
and to the women at the sepulcher: "Why do you search among the dead for one
who is alive? He is not here, he is risen!" (Luke 24:5-6).
It is not difficult to imagine the feelings of these women at that moment:
feelings of sadness and dismay at the death of their Lord, feelings of
disbelief and amazement before a fact too astonishing to be true. But the
tomb was open and empty: the body was no longer there. Peter and John,
having been informed of this by the women, ran to the sepulcher and found
that they were right. The faith of the Apostles in Jesus, the expected
Messiah, had been submitted to a severe trial by the scandal of the cross.
At his arrest, his condemnation and death, they were dispersed. Now they are
together again, perplexed and bewildered. But the Risen One himself comes in
response to their thirst for greater certainty. This encounter was not a
dream or an illusion or a subjective imagination; it was a real experience,
even if unexpected, and all the more striking for that reason. "Jesus came
and stood among them and said to them, 'peace be with you!'" (John 20:19).
At these words their faith, which was almost spent within them, was
re-kindled. The Apostles told Thomas who had been absent from that first
extraordinary encounter: Yes, the Lord has fulfilled all that he foretold;
he is truly risen and we have seen and touched him!
Thomas however remained doubtful and perplexed. When Jesus came for a second
time, eight days later in the Upper Room, he said to him: "put your finger
here and see my hands; and put out your hand and place it in my side; do not
be faithless, but believing!" The Apostle's response is a moving profession
of faith: "My Lord and my God!" (John 20:27-28).
"My Lord and my God!" We too renew that profession of faith of Thomas. I
have chosen these words for my Easter greetings this year, because humanity
today expects from Christians a renewed witness to the resurrection of
Christ; it needs to encounter him and to know him as true God and true man.
If we can recognize in this Apostle the doubts and uncertainties of so many
Christians today, the fears and disappointments of many of our
contemporaries, with him we can also rediscover with renewed conviction,
faith in Christ dead and risen for us. This faith, handed down through the
centuries by the successors of the Apostles, continues on because the Risen
Lord dies no more. He lives in the Church and guides it firmly towards the
fulfillment of his eternal design of salvation.
We may all be tempted by the disbelief of Thomas. Suffering, evil,
injustice, death, especially when it strikes the innocent such as children
who are victims of war and terrorism, of sickness and hunger, does not all
of this put our faith to the test? Paradoxically the disbelief of Thomas is
most valuable to us in these cases because it helps to purify all false
concepts of God and leads us to discover his true face: the face of a God
who, in Christ, has taken upon himself the wounds of injured humanity.
Thomas has received from the Lord, and has in turn transmitted to the
Church, the gift of a faith put to the test by the passion and death of
Jesus and confirmed by meeting him risen. His faith was almost dead but was
born again thanks to his touching the wounds of Christ, those wounds that
the Risen One did not hide but showed, and continues to point out to us in
the trials and sufferings of every human being.
"By his wounds you have been healed" (1 Peter 2:24). This is the message
Peter addressed to the early converts. Those wounds that, in the beginning
were an obstacle for Thomas's faith, being a sign of Jesus' apparent
failure, those same wounds have become in his encounter with the Risen One,
signs of a victorious love. These wounds that Christ has received for love
of us help us to understand who God is and to repeat: "My Lord and my God!"
Only a God who loves us to the extent of taking upon himself our wounds and
our pain, especially innocent suffering, is worthy of faith.
How many wounds, how much suffering there is in the world! Natural
calamities and human tragedies that cause innumerable victims and enormous
material destruction are not lacking. My thoughts go to recent events in
Madagascar, in the Solomon Islands, in Latin America and in other regions of
the world. I am thinking of the scourge of hunger, of incurable diseases, of
terrorism and kidnapping of people, of the thousand faces of violence which
some people attempt to justify in the name of religion, of contempt for
life, of the violation of human rights and the exploitation of persons. I
look with apprehension at the conditions prevailing in several regions of
Africa. In Darfur and in the neighboring countries there is a catastrophic,
and sadly to say underestimated, humanitarian situation. In Kinshasa in the
Democratic Republic of the Congo the violence and looting of the past weeks
raises fears for the future of the Congolese democratic process and the
reconstruction of the country. In Somalia the renewed fighting has driven
away the prospect of peace and worsened a regional crisis, especially with
regard to the displacement of populations and the traffic of arms. Zimbabwe
is in the grip of a grievous crisis and for this reason the bishops of that
country in a recent document indicated prayer and a shared commitment for
the common good as the only way forward.
Likewise the population of East Timor stands in need of reconciliation and
peace as it prepares to hold important elections.
Elsewhere too, peace is sorely needed: in Sri Lanka only a negotiated
solution can put an end to the conflict that causes so much bloodshed;
Afghanistan is marked by growing unrest and instability; In the Middle East,
besides some signs of hope in the dialogue between Israel and the
Palestinian authority, nothing positive comes from Iraq, torn apart by
continual slaughter as the civil population flees. In Lebanon the paralysis
of the country's political institutions threatens the role that the country
is called to play in the Middle East and puts its future seriously in
jeopardy. Finally, I cannot forget the difficulties faced daily by the
Christian communities and the exodus of Christians from that blessed land
which is the cradle of our faith. I affectionately renew to these
populations the expression of my spiritual closeness.
Dear brothers and sisters, through the wounds of the Risen Christ we can see
the evils which afflict humanity with the eyes of hope. In fact, by his
rising the Lord has not taken away suffering and evil from the world but has
vanquished them at their roots by the superabundance of his grace. He has
countered the arrogance of evil with the supremacy of his love. He has left
us the love that does not fear death, as the way to peace and joy. "Even as
I have loved you -- he said to his disciples before his death -- so you must
also love one another" (cf. John 13:34).
Brothers and sisters in faith, who are listening to me from every part of
the world! Christ is risen and he is alive among us. It is he who is the
hope of a better future. As we say with Thomas: "My Lord and my God!", may
we hear again in our hearts the beautiful yet demanding words of the Lord:
"If any one serves me, he must follow me; and where I am, there shall my
servant be also; if any one serves me, the Father will honor him" (John
12:26). United to him and ready to offer our lives for our brothers (cf. 1
John 3:16), let us become apostles of peace, messengers of a joy that does
not fear pain - the joy of the Resurrection. May Mary, Mother of the Risen
Christ, obtain for us this Easter gift. Happy Easter to you all.
[The Holy Father greeted pilgrims in 62 languages. In English, he said:]
May the grace and joy of the Risen Christ be with you all.
C Copyright 2007 -- Libreria Editrice Vaticana
-BCA SCM-
"A Renewed Witness to the Resurrection of Christ"
VATICAN CITY, APRIL 8, 2007 - Here is a Vatican translation of Benedict
XVI's Easter message delivered today at midday before he imparted his
blessing "urbi et orbi" (to the city of Rome and the world).
* * *
Dear brothers and sisters throughout the world, Men and women of good will!
Christ is risen! Peace to you! Today we celebrate the great mystery, the
foundation of Christian faith and hope: Jesus of Nazareth, the Crucified
One, has risen from the dead on the third day according to the Scriptures.
We listen today with renewed emotion to the announcement proclaimed by the
angels on the dawn of the first day after the Sabbath, to Mary of Magdala
and to the women at the sepulcher: "Why do you search among the dead for one
who is alive? He is not here, he is risen!" (Luke 24:5-6).
It is not difficult to imagine the feelings of these women at that moment:
feelings of sadness and dismay at the death of their Lord, feelings of
disbelief and amazement before a fact too astonishing to be true. But the
tomb was open and empty: the body was no longer there. Peter and John,
having been informed of this by the women, ran to the sepulcher and found
that they were right. The faith of the Apostles in Jesus, the expected
Messiah, had been submitted to a severe trial by the scandal of the cross.
At his arrest, his condemnation and death, they were dispersed. Now they are
together again, perplexed and bewildered. But the Risen One himself comes in
response to their thirst for greater certainty. This encounter was not a
dream or an illusion or a subjective imagination; it was a real experience,
even if unexpected, and all the more striking for that reason. "Jesus came
and stood among them and said to them, 'peace be with you!'" (John 20:19).
At these words their faith, which was almost spent within them, was
re-kindled. The Apostles told Thomas who had been absent from that first
extraordinary encounter: Yes, the Lord has fulfilled all that he foretold;
he is truly risen and we have seen and touched him!
Thomas however remained doubtful and perplexed. When Jesus came for a second
time, eight days later in the Upper Room, he said to him: "put your finger
here and see my hands; and put out your hand and place it in my side; do not
be faithless, but believing!" The Apostle's response is a moving profession
of faith: "My Lord and my God!" (John 20:27-28).
"My Lord and my God!" We too renew that profession of faith of Thomas. I
have chosen these words for my Easter greetings this year, because humanity
today expects from Christians a renewed witness to the resurrection of
Christ; it needs to encounter him and to know him as true God and true man.
If we can recognize in this Apostle the doubts and uncertainties of so many
Christians today, the fears and disappointments of many of our
contemporaries, with him we can also rediscover with renewed conviction,
faith in Christ dead and risen for us. This faith, handed down through the
centuries by the successors of the Apostles, continues on because the Risen
Lord dies no more. He lives in the Church and guides it firmly towards the
fulfillment of his eternal design of salvation.
We may all be tempted by the disbelief of Thomas. Suffering, evil,
injustice, death, especially when it strikes the innocent such as children
who are victims of war and terrorism, of sickness and hunger, does not all
of this put our faith to the test? Paradoxically the disbelief of Thomas is
most valuable to us in these cases because it helps to purify all false
concepts of God and leads us to discover his true face: the face of a God
who, in Christ, has taken upon himself the wounds of injured humanity.
Thomas has received from the Lord, and has in turn transmitted to the
Church, the gift of a faith put to the test by the passion and death of
Jesus and confirmed by meeting him risen. His faith was almost dead but was
born again thanks to his touching the wounds of Christ, those wounds that
the Risen One did not hide but showed, and continues to point out to us in
the trials and sufferings of every human being.
"By his wounds you have been healed" (1 Peter 2:24). This is the message
Peter addressed to the early converts. Those wounds that, in the beginning
were an obstacle for Thomas's faith, being a sign of Jesus' apparent
failure, those same wounds have become in his encounter with the Risen One,
signs of a victorious love. These wounds that Christ has received for love
of us help us to understand who God is and to repeat: "My Lord and my God!"
Only a God who loves us to the extent of taking upon himself our wounds and
our pain, especially innocent suffering, is worthy of faith.
How many wounds, how much suffering there is in the world! Natural
calamities and human tragedies that cause innumerable victims and enormous
material destruction are not lacking. My thoughts go to recent events in
Madagascar, in the Solomon Islands, in Latin America and in other regions of
the world. I am thinking of the scourge of hunger, of incurable diseases, of
terrorism and kidnapping of people, of the thousand faces of violence which
some people attempt to justify in the name of religion, of contempt for
life, of the violation of human rights and the exploitation of persons. I
look with apprehension at the conditions prevailing in several regions of
Africa. In Darfur and in the neighboring countries there is a catastrophic,
and sadly to say underestimated, humanitarian situation. In Kinshasa in the
Democratic Republic of the Congo the violence and looting of the past weeks
raises fears for the future of the Congolese democratic process and the
reconstruction of the country. In Somalia the renewed fighting has driven
away the prospect of peace and worsened a regional crisis, especially with
regard to the displacement of populations and the traffic of arms. Zimbabwe
is in the grip of a grievous crisis and for this reason the bishops of that
country in a recent document indicated prayer and a shared commitment for
the common good as the only way forward.
Likewise the population of East Timor stands in need of reconciliation and
peace as it prepares to hold important elections.
Elsewhere too, peace is sorely needed: in Sri Lanka only a negotiated
solution can put an end to the conflict that causes so much bloodshed;
Afghanistan is marked by growing unrest and instability; In the Middle East,
besides some signs of hope in the dialogue between Israel and the
Palestinian authority, nothing positive comes from Iraq, torn apart by
continual slaughter as the civil population flees. In Lebanon the paralysis
of the country's political institutions threatens the role that the country
is called to play in the Middle East and puts its future seriously in
jeopardy. Finally, I cannot forget the difficulties faced daily by the
Christian communities and the exodus of Christians from that blessed land
which is the cradle of our faith. I affectionately renew to these
populations the expression of my spiritual closeness.
Dear brothers and sisters, through the wounds of the Risen Christ we can see
the evils which afflict humanity with the eyes of hope. In fact, by his
rising the Lord has not taken away suffering and evil from the world but has
vanquished them at their roots by the superabundance of his grace. He has
countered the arrogance of evil with the supremacy of his love. He has left
us the love that does not fear death, as the way to peace and joy. "Even as
I have loved you -- he said to his disciples before his death -- so you must
also love one another" (cf. John 13:34).
Brothers and sisters in faith, who are listening to me from every part of
the world! Christ is risen and he is alive among us. It is he who is the
hope of a better future. As we say with Thomas: "My Lord and my God!", may
we hear again in our hearts the beautiful yet demanding words of the Lord:
"If any one serves me, he must follow me; and where I am, there shall my
servant be also; if any one serves me, the Father will honor him" (John
12:26). United to him and ready to offer our lives for our brothers (cf. 1
John 3:16), let us become apostles of peace, messengers of a joy that does
not fear pain - the joy of the Resurrection. May Mary, Mother of the Risen
Christ, obtain for us this Easter gift. Happy Easter to you all.
[The Holy Father greeted pilgrims in 62 languages. In English, he said:]
May the grace and joy of the Risen Christ be with you all.
C Copyright 2007 -- Libreria Editrice Vaticana
-BCA SCM-
Subscribe to:
Posts (Atom)
